Layanan Konsultasi ODHA Tanpa Tatap Muka, Obat Langsung Dikirim

Orang dengan HIV/ AIDS (ODHA), cenderung sulit membuka diri untuk sekadar memeriksa kesehatannya. Di Semarang ada aplikasi untuk konsultasi ODHA tanpa harus bertatap muka.

SEMARANG – Arvin semringah saat ditemui metrojateng.com, di Puskesmas Halmahera, Semarang Timur, belum lama ini. Hari sudah sore tetapi raut wajahnya tak menampakan rasa lelah.

Hari itu Arvin baru saja selesai melayani berbagai pasien yang berobat ke puskesmasnya. Selama bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya sebagai tukang racik obat alias apoteker.

Arvin Faizatun saat ditemui metrojateng.com

Ruangannya tergolong kecil. Di dalamnya tersimpan ragam obat-obatan. Ia lalu menunjukkan sebutir obat berukuran setengah jari kelingking berwarna putih tulang.

“Ini obat tunggal ARV khusus untuk dikonsumsi orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Mas. Kalau pas stok ARV yang diberikan oleh Kemenkes ndelalah habis, nah obat tunggal inilah yang akan saya andalkan sebagai resep bagi ODHA,” akunya.

Ia rutin menulis resep obat bagi para ODHA. Obat tunggal yang ia tunjukan itu untuk dikonsumsi sehari dua kali. Ini berbeda dengan resep obat ARV yang dipecah menjadi tiga butir.

Perempuan bernama lengkap Arvin Faizatun ini mengatakan obat ARV punya efek samping yang kuat bagi pemakainya.

“Yang bersangkutan bisa mengalami halusinasi dan mual. Makanya, setiap mau ngasih resep ARV, saya sering memberikan pengertian kepada ODHA. Termasuk apa saja keluhannya, apakah pihak keluarga sudah tahu kalau dia mengidap HIV,” katanya.

Mengajak para ODHA untuk berkonsultasi dan berobat ke puskesmasnya, rupanya tak mudah. Ia kerap berada di situasi yang serba dilematis tatkala mendapati ODHA datang berobat dalam kondisi kepayahan. Tak jarang, Arvin mendapati ODHA dalam kondisi kritis. Sudah mengalami stadium keempat sehingga kondisinya sekarat.

“Saya sudah banyak menemui pasien ODHA. Beberapa dari mereka ada yang ketika sudah berobat tetapi tiba-tiba menghilang karena merasa keadaannya sudah membaik. Namun, ketika kembali drop, mereka kembali ke sini,” ujarnya.

Ketika ODHA berhenti berobat karena merasa kondisinya sudah membaik, dalam beberapa waktu kondisinya akan kembali drop. Saat drop, ODHA harus kembali melakukan pengobatannya dari awal.

“Ada beberapa hal yang menyebabkan mereka tidak melanjutkan pengobatan. Ada yang merasa sudah membaik, ada juga yang mungkin merasa kerepotan dengan berbagai macam pengobatan yang dijalani,” paparnya.

Untuk menyiasati agar para ODHA tidak mendapat diskriminasi dengan tetap mendapat layanan prima dari dirinya, Arvin sejak lima tahun terakhir membuat gebrakan. Atas dasar ingin menolong sesama umat manusia, ia membuka layanan Konsultasi Farmasi Online (Kofaro).

Ini, katanya merupakan layanan pengobatan bagi ODHA yang pertama di Semarang, bahkan di Jawa Tengah. “Saya pakai aplikasi WhatsApp untuk menghubungi setiap ODHA yang masih menutup diri maupun takut untuk berobat ke puskesmas. Jadi mereka kalau mau berobat atau ambil obatnya, enggak perlu lagi datang ke puskesmas. Cukup kita berkirim pesan singkat saja,” urainya.

Dengan Kofaro, Arvin mengklaim telah melegakan hati para ODHA. Mereka bisa mendapat saran tentang tindakan pertama jika terjadi hal darurat. Yang penting lagi, ia juga bisa memantau keadaan para ODHA.

“Saya bisa ngelingke mereka pas kembali berobat, kapan mereka harus minum obat, dan kapan mereka harus kembali mengambil obat. Istilahnya, saya menjadi pengingat bagi mereka,” tuturnya.

Ia berharap apa yang ia lakukan selama ini mampu mengurangi jumlah ODHA yang meninggal dunia. Sebab, dari temuannya sejak 2010, dari ratusan ODHA, jumlah yang merenggang nyawa sudah mencapai puluhan orang.

Ia menargetkan Kofaro nantinya dapat dikembangkan lagi menjadi layanan Mengingatkan Pengambilan Obat ARV (Sempoa) berbasis SMS otomatis. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.