Lagi, Petugas KPPS di Semarang Meninggal

Sakit Liver Kambuh Usai Pencoblosan

Ia berharap kematian Bambang dan petugas penyelenggara Pemilu lainnya menjadi bahan evaluasi pemerintah atas pelaksanaan Pemilu serentak tahun ini

SEMARANG – Perhelatan Pemilu 2019 yang amat berat terus memakan korban jiwa. Kali ini, seorang Petugas KPPS Barusari, Semarang Selatan dilaporkan meninggal dunia karena efek kelelahan saat mengawal logistic TPS.

Suasana di rumah duka Bambang Saptono. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

Petugas KPPS yang tersebut bernama Bambang Saptono. Pria berusia 52 tahun itu meninggal dunia sesaat setelah dilarikan ke RSUP Dr Kariadi Semarang. Seorang tetangga, Basuki Suwandi, mengatakan Bambang Saptono sempat mengeluh sakit pada saat bertugas menjadi KPPS.

“Pas coblosan kemarin itu dia ngakunya sempat sakit. Tapi enggak terlalu banyak mengeluh,” kata Basuki ditemui di rumah duka Bambang Saptono di Jalan Kaligarang Nomor 21 Semarang Selatan, Rabu (24/04/2019) malam.

Sejumlah tetangga dan kerabat telah berkumpul di rumah duka untuk melayat dan berdoa. Jenazah Bambang Saptono akan dikebumikan pada hari ini, Kamis (25/04/2019), pukul 14.00 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota.

 

Tetap Bertugas

Menurut Basuki, pada saat hari pencoblosan, kendati merasakan sakit, Bambang tetap melanjutkan tugasnya sebagai KPPS hingga selesai. Bahkan bekerja sampai perhitungan suara selesai Kamis (18/4) pukul 05.30 WIB.

 

“Beliau tetap bekerja. Mungkin itu yang membuat beliau kelelahan, hingga sakit livernya kambuh,” kata Basuki. Hingga saat ini, belum dipastikan apakah Bambang betul-betul memiliki riwayat penyakit liver atau tidak.

 

Basuki mengenal almarhum merupakan sosok yang gigih dalam bertugas menjadi KPPS. Sudah tak terhitung lagi almarhum Bambang menerima mandat menjadi KPPS setiap kali Pemilu.

 

Selepas Pemilu 17 April 2019 lalu, Bambang kembali beraktivitas normal seperti biasanya. Bambang yang juga Ketua RT di wilayah setempat itu tetap berjualan makanan di warung yang ada di depan rumahnya.

 

Namun, akibat kelelahan yang semakin mendera, fisiknya tak bisa lagi diajak kompromi. Menurut Basuki, menjelang akhir hidup, Bambang terlihat pucat dan mengeluh sakit lambung.

 

“Wajahnya sudah kelihatan pucat dan matanya kekuningan. Setelah itu, kemarin sama keluarganya dibawa ke (Rumah Sakit) Kariadi. Ternyata sudah nggak ketolong,” tutur Basuki.

 

Ia berharap kematian Bambang dan petugas penyelenggara Pemilu lainnya menjadi bahan evaluasi pemerintah atas pelaksanaan Pemilu serentak tahun ini. Basuki bilang, sebaiknya pemerintah pusat segera mengubah mekanisme Pemilu serentak agar lebih efisien dan tidak menguras energi.

 

“Jangan gini lagi lah. Sangat-sangat melelahkan, apalagi pada proses administrasinya. Itu yang bikin ribet banget. Sebaiknya Pemilu diubah, dipisah saja antara Pilpres, Pemilihan DPR dan Pemilihan DPRD tingkat kota dan provinsi,” katanya.

 

Menurut Basuki, sebetulnya tidak ada kendala dalam Pemilu. “Tapi karena proses administrasi yang panjang dan ribet, kami lelah. Yang paling bikin capek saat penghitungan dan laporan saksi juga administrasi secara manual,” jelasnya.

 

Basuki yang ikut jadi Ketua KPPS 12 mendapat pelajaran berharga. Dengan honor Rp 500-550 ribu, ini merupakan pengabdian bagi negara. Sehingga ia tidak bisa berbuat banyak ketika tugasnya sampai lembur berhari-hari. Saat ini, jumlah anggota KPPS yang meninggal kian bertambah. KPU Jateng mencatat ada 32 orang. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.