Kulakan Bareng Pakai Aplikasi, Ikhtiar Koperasi Tetap Eksis di Era Digitalisasi

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jawa Tengah per Juli 2019, jumlah koperasi di Jateng ada 26.593.

ERA disrupsi tak bisa dipungkiri, salah satu yang menandai adalah ketika ekonomi digital terus tumbuh menembus segala lini hingga menggeser ekonomi kerakyatan seperti koperasi. Kondisi itu terjadi di Kabupaten Magelang, pada akhir tahun 2017 sebanyak 159 koperasi ditutup. Sedangkan, koperasi yang masih ada di sana rata-rata dalam keadaan tidak berkembang. Namun, situasi itu tidak membuat koperasi-koperasi yang masih bertahan di sana lengah.

Masyarakat Kabupaten Magelang berbelanja di salah satu cabang Tosima Mart yang merupakan toko ritel modern yang dikelola oleh koperasi. Foto: dokumentasi Tosima Mart

Suatu gerakan ekonomi kerakyatan dan memegang prinsip gotong royong sesuai khitah koperasi diikhtiarkan oleh Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Berkah Muntilan, KPRI Sempulur Pakis, BMT Dana Barokah, dan KSPS Al Husna Borobudur. Semangat empat badan usaha tersebut tetap berkobar membentuk korporasi PT Tosima Gemilang Indonesia yang dilegalkan oleh Kementerian Hukum dan HAM, kemudian mendirikan ritel modern dengan menjunjung asas koperasi.

Sujadi, Ketua KPRI Berkah Magelang adalah salah satu yang membangkitkan khitah koperasi dan menyelaraskan dengan keadaan masa kini.

‘’Setelah penutupan 159 koperasi, para pengurus dan angggotanya bingung mau usaha apa ya? Kalau mau ‘jual uang’ atau buka koperasi simpan pinjam persaingan cukup berat. Sehingga, waktu itu kami terbesit bagaimana jika koperasi yang masih bertahan ini digerakkan, melalui toko-toko yang selama ini berjalan tidak mulus,’’ ungkapnya saat ditemui metrojateng.com di sela kunjungannya di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Koperasi-koperasi yang memiliki toko atau bergerak di bidang ritel diajak ‘kulakan bareng’ atau belanja bersama. PT Tosima Gemilang Indonesia yang sudah berbadan hukum itu berfungsi sebagai distributor yang memasok produk ritel ke toko-toko.

“Dengan kulakan bareng, tentu kami mendapat harga lebih murah dan kami berhasil menyuplai 3.500 item barang ke toko yang kami kelola bernama Toko Koperasi Magelang (Tosima Mart),” tuturnya.

Kini sudah ada 13 Tosima Mart di Kabupaten Magelang dan semua itu milik koperasi. Namun, bagi koperasi yang belum mampu atau tidak punya modal banyak untuk mendirikan toko tapi ingin bergabung dalam bisnis ini, maka bisa membeli saham.

Gunakan Aplikasi Online

Tak puas menjalankan dengan cara biasa, aktivitas ‘kulakan bareng’ dari sembilan minimarket berlabel Tosima itu dioperasionalkan menggunakan aplikasi online. Upaya itu dilakukan untuk menghadapi zaman yang sudah berubah. Teknologi digital dimanfaatkan untuk memantau arus perputaran barang dan uang dari bisnis ritel di sana.

Lelaki yang sudah 19 tahun bergelut di dunia koperasi itu menjelaskan, era cepat berubah teknologi terus berkembang. Maka mau tidak mau hal itu harus dijawab dengan cepat tanggap, salah satunya menerapkan aplikasi online di dunia perkoperasian.

“Melalui aplikasi itu kami bisa memantau stok barang yang sudah terjual, kegiatan transaksi, dan pendapatan setiap toko. Sehingga toko tidak direpotkan dengan kulakan (belanja, red-) kalau stok sudah hampir habis, karena semua bisa dipantau hari itu mulai berapa barang yang terjual, stok masih berapa, jika menipis kami bisa langsung kirim ke toko,” jelasnya.

Sebab, lanjut Sujadi, semua bakal ketahuan dari server secara transparan. Selain itu, semua toko juga menerapkan harga sama, jika ada promo ya semua toko memberi promo.

“Setiap ada promo atau diskon akan kami beritahukan melalui website dan media sosial Tosima Mart di Facebook ataupun Instagram. Ke depan pengembangan aplikasi yang ingin digarap adalah masyarakat bisa belanja online di Tosima Mart dan melakukan pembayaran secara non tunai di kasir toko. Hal itu akan diusahakan segera supaya pembeli semakin mudah berbelanja,” jelasnya.

Dari bisnis ritel minimarket itu, pengurus Tosima Mart mencatat rata-rata transaksi di setiap toko mencapai Rp 5 juta/hari. Jika nanti semua pengelolaan sudah dengan aplikasi, pengurus koperasi menargetkan transaksi sebesar Rp 10 juta/hari. Adapun, PT Tosima Gemilang Indonesia juga menargetkan hingga akhir tahun ada 20 Tosima Mart yang buka di Kabupaten Magelang.

“Rencana ke depan Tosima Mart tidak hanya di Kabupaten Magelang. Perusahaan akan terus berekspansi memberikan informasi tentang bisnis ritel berlandaskan koperasi ini, dan bagi yang berminat bisa langsung bergabung membuka toko baru. Sejauh ini di Kendal mau buka 20 toko, Demak juga berminat, kemudian menyusul Rembang dan Jepara. Sehingga harapan kami semua kabupaten dan kota di Jawa Tengah ada Tosima Mart,” ungkapnya.

Wujudkan Cita-cita Bung Hatta

Upaya yang dilakukan PT Tosima Gemilang Indonesia ini, ingin mewujudkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang dicita-citakan pendiri koperasi, Mohammad Hatta atau dikenal Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Sebagaimana saka guru ekonomi Indonesia adalah koperasi, maka ada tanggung jawab yang harus dikerjakan yakni membuat masyarakat sejahtera dan berdikari melalui koperasi.

“Maka kami berharap suatu saat pemerintah daerah bisa membuat payung hukum untuk menghimbau masyarakat berbelanja di toko atau minimarket milik koperasi. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap koperasi juga meningkat. Sebab, kami hanya ingin ritel ini dikuasai oleh koperasi, bukan korporasi yang mengejar keuntungan cukup besar. Kami di sini tidak mencari keuntungan besar, kecil saja namun merata untuk anggota koperasi sehingga harga barang di minimarketnya juga bisa lebih bersaing,” kata Sujadi.

Rencana selanjutnya, PT Tosima juga akan mengenalkan koperasi ke generasi milenial. Tantangan ini sudah dijawab dengan mulai merekrut karyawan dari generasi muda, seperti lulusan SMK dan sarjana. Dari mereka harapannya, dapat menyebarkan hal-hal baik tentang koperasi seperti keuntungan dan manfaat menjadi anggota atau belanja di toko milik koperasi.

“Bahkan, kami juga mengusulkan kepada Dinas Koperasi dan UKM baik kabupaten atau provinsi agar membuat program pembinaan bagi lulusan sekolah untuk membuat produk industri rumahan. Apabila layak dan izin lengkap bisa dipasarkan di Tosima Mart,” imbuhnya.

Digitalisasi Koperasi

Sementara, digitalisasi koperasi di Jawa Tengah juga sedang didorong dan segera diterapkan. Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah memacu koperasi untuk mengaplikasikan teknologi informasi dalam layanan online.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Emma Rachmawati mengatakan, pihaknya berupaya untuk mempercepat transformasi koperasi menuju digital.

“Memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Pada era disrupsi sekarang, inovasi berbasis digitalisasi menjadi satu hal yang perlu diutamakan,” ungkapnya.

CEO PT Sadewa Jawara Indonesia, Ery Pertinda Saputra didampingi Komisaris, Sucahyo Budiman menunjukkan contoh aplikasi digital dari koperasi simpan pinjam yang didampinginya pada acara workshop evaluasi sistem digitalisasi koperasi di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Jateng, minggu lalu. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jawa Tengah per Juli 2019, jumlah koperasi di Jateng ada 26.593. Tercatat koperasi yang aktif ada 12.818 dan sudah tidak aktif ada 13.775. Dengan potensi besar yang masih dapat digarap itu harapannya program jangka menengah panjang digitalisasi koperasi bisa diterapkan. Namun, tidak sekadar menggarap sistem digital di dunia koperasi, pendampingan sumber daya manusia (SDM) di badan usaha tersebut juga diperlukan. Salah satunya melatih mereka menguasai perangkat digital.

Untuk itu, Dinas Koperasi dan UKM Jateng menggandeng inkubator PT Sadewa Jawara Indonesia, yang akan menyediakan aplikasi digital sekaligus mendampingi SDM koperasi.

Emma mengatakan, sekarang Sadewa G2 Koperasi menjadi platform milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mengembangkan bisnis koperasi di era digital.

“Karena kami ingin melakukan digitalisasi terhadap koperasi, maka untuk tahap awal kami akan garap 600-700 koperasi dari 26.000 koperasi di Jawa Tengah,” tuturnya.

Melalui Sadewa G2 Koperasi, diharapkan tata kelola koperasi berbasis IT bisa berjalan, seperti mengintegrasikan teknologi informasi dalam laporan koperasi sehari-hari dapat terwujud. Selain itu, kerja koperasi jadi lebih efisien dan mengurangi faktor human error, kemudian bisa dijadikan sebagai alat kontrol bagi dinas, sekaligus meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap koperasi, dan yang terakhir bisa meningkatkan jumlah koperasi berkualitas di Jawa Tengah.

CEO PT Sadewa Jawara Indonesia, Ery Pertinda Saputra mengatakan, kerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM saat ini sudab menyentuh sekitar 100 koperasi yang berada dalam tahap proses pembinaan.

“Melalui aplikasi yang dikembangkan Sadewa G2, ke depan Dinas Koperasi dan UKM jadi lebih mudah memantau kehidupan koperasi di Jateng, karena semua transaksi bisa dilihat pada aplikasi digital. Dari sisi keberlanjutan, koperasi juga bisa ekspansi bisnis sesuai dengan regulasi dan menghasilkan pendapatan baru,” katanya saat ditemui di sela acara workshop evaluasi sistem digitalisasi koperasi di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Jateng.

Sementara itu, PT Sadewa Jawara Indonesia juga tengah mendampingi koperasi dari berbagai wilayah di Indonesia.

Komisaris PT Sadewa Jawara Indonesia, Sucahyo Budiman mengatakan, secara nasional sudah ada 45 koperasi di berbagai wilayah yang didampingi menuju digitalisasi, di antaranya di Toraja, Makassar, Kendari, Maumere, dan Jakarta.

”Melalui sistem digital, koperasi bisa menambah akses ke pasar dan mendorong kemandirian. Selain itu, dapat memberdayakan UMKM dan menjadi jembatan dengan pelaku industri,” tandasnya. (Anggun Puspita)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.