Kota Tegal Sudah 439 Tahun, Nenek Ini Memilih Tinggal di ‘Gudang’

Tanpa ada ruang yang tersisa, hampir seluruh bagian rumahnya terisi tumpukan perabotan rusak dan pakaian yang sudah tidak layak pakai.

TEGAL – Hingar bingar perayaan Hari Jadi ke-439 Kota Tegal mulai dinikmati masyarakat hari ini, Jumat (12/4/2019). Namun, ada hal kecil yang mungkin terlewatkan di balik euforia hari jadi. Media sosial Facebook mengungkap hal tersebut.

Mbah Fathonah memilih tinggal di rumah sempit daripada pindah ke panti. Foto: metrojateng.com/adithya

Seorang wanita lanjut usia mendadak viral karena hidup di sebuah rumah kecil dan kumuh. Akun Facebook bernama Eko Wahyudin mengunggah foto kondisi rumah dan wanita paruh baya tersebut. Diketahui, wanita tersebut bernama Fathonah yang sudah berusia sekitar 75 tahun.

Saat didatangi metrojateng.com, Jumat (12/4), warga RT 02/ RW 02 Kelurahan Tunon, Kecamatan Tegal Selatan tersebut kondisinya sangat memprihatinkan. Tanpa ada ruang yang tersisa, hampir seluruh bagian rumahnya terisi tumpukan perabotan rusak dan pakaian yang sudah tidak layak pakai.

Ironisnya, bangunan 4×4 meter itu menjadi satu untuk digunakan sebagai tempat tidur, dapur dan juga kamar mandi. Tanpa memiliki sekat, kondisi ruangan itu benar-benar memprihatinkan. Bagaimana tidak, seorang lansia terbiasa seorang diri bertahan hidup di tengah gemerlapnya pembangunan kota.

Dengan didampingi Kepala RW 02, Nurokhim, nenek Fathonah yang telah lama mengidap rabun mata hanya bisa menatap kosong, sembari menjawab beberapa pertanyaan. Diketahui, dia tinggal di rumah tersebut bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Sarip. Sementara anak keduanya telah lama merantau ke Ibu Kota bersama sang suami.

“Mbah, nanti ikut ke panti mau. Biar tidak tinggal di tempat ini lagi. Nanti di sana ada banyak teman, tempatnya juga lebih bersih,” ungkap Nurokhhim mengajak Fathonah untuk direhab ke Panti.

Kondisi rumah Fathonah yang lebih mirip gudang. Tapi wanita 75 tahun itu menolak diajak pindah. Foto: metrojateng.com/adithya

Namun, tak disangka, dia menolak dan memilih bertahan hidup bersama Sarif, anak laki-lakinya yang bekerja sebagai tukang becak. Dia mengaku lebih betah di rumah yang dibangun di sebuah tanah milik orang lain.

Dong pan pindah kudune taren ndisit karo Sarif. Mengko dong nyong mana (panti) putune pating glayap sih,” kata Fathonah. (Kalau mau pindah, harus pamit dulu sama Sarif. Nanti kalau saya ke sana (panti) cucu saya kehilangan).

Dijelaskan Nurokhhim, nenek Fathonah memang sudah puluhan tahun tinggal di rumah kumuh tersebut. Pihaknya mengaku sudah berulang kali membujuk dan merayu, namun Fathonah selalu menolak dan mengaturkan terima kasih.

“Sejak wali kota terdahulu sudah dirayu namun lagi-lagi ditolak. Untuk kebutuhan sehari-hari, Sarif yang memenuhi. Terkadang uluran bantuan dari tetangga juga berdatangan,” bebernya. (MJ-10)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.