Kota Magelang Kembali Raih Penghargaan Wahana Tata Nugraha

Sejak tahun 2014 Kota Magelang selalu menjadi langganan WTN dengan menyabet empat kali penghargaan.

MAGELANG – Untuk kesekian kalinya, Kota Magelang memperoleh penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) katagori kota sedang. Pemberian piala penghargaan dilakukan langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi di Jakarta Convention Center, Minggu (15/9/2019). Kota Magelang dinilai mampu menata transportasi publik dengan baik.

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito saat menerima penghargaan dari Menhub Budi Karya Sumadi, Minggu (15/9).. Foto: dok Humas Kota Magelang

Wali Kota Sigit Widyonindito mengaku bangga dengan raihan prestasi sarat gengsi ini. Terlebih sejak tahun 2014 Kota Magelang selalu menjadi langganan WTN dengan menyabet empat kali penghargaan. Pertama diterima tahun 2014, kemudian berturut-turut tahun 2015 dan 2016.

“Yang membuat bangga, skor di semua aspek diatas 85, sehingga WTN yang diperoleh tahun 2019 ini tanpa catatan,” ucap Sigit.

Padahal pada tahapan ini, imbuh Sigit, penilaiannya sangatlah kompleks. Tidak hanya kriteria yang dan aspek saja, tetapi rentang waktu penilaian dilakukan sejak tahun 2018 lalu.

“Bedanya kalau tahun-tahun sebelumnya, penilaiannya pada tahun itu juga. Sekarang beda. Untuk mendapatkan WTN tahun 2019, penilaiannya dilakukan sejak tahun 2018 dan 2019. Jadi selama dua tahun, kita sangat bersyukur karena transportasi kita dianggap memuaskan,” tuturnya.

Sigit juga berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya, terlebih khusus kepada masyarakat Kota Magelang dan jajaran Polres Magelang Kota. Sebab bagaimanapun peran dari Polri sangat menunjang raihan prestasi tersebut.

“Tentu keteraturan transportasi publik di Kota Magelang ada banyak pihak yang terlibat. Untuk itu, saya mengucapkan banyak terima kasih atas sinergi yang baik terhadap masyarakat dan juga Kapolres Magelang Kota, sehingga Kota Magelang bisa meraih kembali penghargaan ini,” ujarnya didampingi Kapolres Magelang Kota AKBP Idham Mahdi.

Ia juga menyebut, beberapa program yang telah berjalan di Kota Magelang sehingga menunjang diraihnya penghargaan tersebut, di antaranya Car Free Day yang dilaksanakan 20 kali dalam satu tahun dan Car Free Night yang dilaksanakan pada malam tahun baru.

Selanjutnya, adanya taman lalu lintas, keberadaan jalur khusus sepeda, pedesterian yang ramah terhadap penyandang disabilitas, kawasan tertib lalu lintas yang gencar dilaksanakan Pemkot Magelang bersama jajaran instansi terkait, dan implementasi Area Traffic Control System (ATCS).

Menurutnya, saat ini ada 11 titik ATCS ditambah dengan 14 titik CCTV, adanya zona selamat sekolah, pelajar pelopor, Abdiyasa Teladan yang membawa Kota Magelang pernah meraih juara harapan 1 tingkat nasional.

Selain itu, Kota Magelang sudah mempunyai database rambu yang berguna untuk pengontrol dan pengawasan rambu. Lalu, Cek Kir Online yang masuk dalam TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018 dan Public Safety Center yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes).

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang, Suryantoro menjelaskan, adanya ATCS yang dibangun ini untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat, juga seluruh objek vital di Kota Magelang karena dapat dipantau langsung oleh petugas yang berjaga .

“Kami juga sudah memiliki Unit Pengujian Berkala ter-Akreditasi B, semua alat uji selalu terkalibrasi secara periodik setiap satu tahun sekali,” imbuhnya.

Sedangkan fasilitas lain, yakni berupa Terminal Tipe C di Magersari, Magelang Selatan, lanjut dia, telah memenuhi syarat sebuah terminal sesuai PM 132 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan. Fasilitas itu kian dilengkapi dengan terbangunnya, 21 buah halte.

“Untuk halte telah dilengkapi dengan rambu dan nama halte, papan informasi trayek yang melalui halte, lampu penerangan, dan juga dilengkapi dengan stop kontak,” jelasnya.

Kemudian, angkutan di Kota Magelang rata-rata beroperasi selama 12 jam. Secara estetis juga turut menjadi perhatian karena para pengemudi angkot telah dilengkapi dengan seragam khusus pengemudi dan tanda pengenal masing-masing.

“Jika kita melihat situasi di jalan raya, kesadaran warga soal kecepatan kendaraan dalam kota juga masih standar, rata-rata tak lebih dari 40 kilometer per jam. Lalu, kondisi permukaan jalan di Kota Magelang hampir tidak ada jalan yang rusak, juga pedesterian yang ramah difabel dengan lebar lebih dari 1,5 meter,” sebutnya.

Dirinya juga menilai, secara umum ketersediaan rambu lalu lintas di Kota Magelang telah memenuhi kebutuhan. Beberapa di antaranya yaitu rambu petunjuk, rambu peringatan, rambu perintah, dan rambu larangan.

“Kemudian paku jalan dan marka jalan yang bisa menyala ketika malam hari, bisa dijadikan pengendara untuk lebih berhati-hati dan lebih memahami kondisi di jalan raya,” terangnya. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.