Kontes Burung Dilindungi Wajib Bercincin

Burung yang masuk kategori dilindungi harus ada cincinnya untuk membedakan dengan burung lain.

SEMARANG- Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah menyatakan seluruh burung yang diikutkan dalam kontes kicau wajib ditandai dengan pemasangan cincin pada kakinya.

Aliansi dan Forum Kicaumania Indonesia wilayah Semarang berdemo menolak pembatasan burung, di depan DPRD Kota Semarang, Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa (14/8/2018). Foto: metrojateng.com/Masrukhin Abduh

Hal itu demi menegakan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2018 mengenai jenis tumbuhan dan satwa dilindungi.

“Tetapi, sesuai apa yang diatur dalam peraturan menteri, bagi yang kadung memiliki dan memperdagangkan satwa tersebut tidak perlu khawatir. Mengingat kategorinya sudah termasuk spesimen tidak dilindungi atau disamakan dengan F2 hasil penangkaran,” kata Kepala BKSDA Jawa Tengah, Suharman, kepada metrojateng.com, Kamis (16/8/2018).

Suharman memastikan aturan tersebut berlaku surut. Dalam artian, lanjutnya, pihaknya tidak menjatuhi sanksi bagi para penyuka dan penangkar burung.

BKSDA, menurutnya saat ini telah menyiapkan posko-posko untuk mendata ulang sekaligus menandai burung-burung yang masuk daftar Permen Nomor 20.

“Termasuk burung kontes juga ditandai. Si burung yang masuk satwa dilindungi harus ditandai dengan memasangkan cincin pada kakinya. Sehingga, ketika di mana pun dibawa bisa dibedakan dengan burung yang hidup liar di alam bebas,” ungkapnya.

Sesuai peraturan itu, Suharman menyatakan terdapat 919 tumbuhan dan satwa liar. Dari jumlah itu, terdapat 562 burung langka. Sedangkan jumlah penangkar tumbuhan dan satwa yang didata oleh BKSDA mencapai 400 orang.

“Dan hampir 90 persennya merupakan penangkar burung. Mulai jalak bali, jalak putih hingga murai batu. Sisanya itu ya penangkar tupai terbang, landak, binturong dan rusa,” bebernya.

Sementara itu, Sokhib Abdilah, Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati BKSDA Jateng, menyatakan, pemberlakuan peraturan itu bertujuan menjerat para pemburu satwa liar yang kini tersebar di Sumatera maupun Kalimantan.

“Untuk Jawa Tengah sendiri saya rasa enggak ada. Maka saya mengimbau para penggemar tidak perlu khawatir. Karena mereka tinggal mengurus izin legalitas penangkaran satwa langkanya. Kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 2,5 juta. Batas waktunya kita beri kesempatan sampai setahun ke depan,” kata Shokhib. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.