Kong Tik Soe, Tempat Penghormatan Arwah Tentara Tionghoa Kini Ludes Ditelan Api

Kong Tik Soe memiliki dua altar untuk persembahan bagi dewa-dewi. Terakhir kali ada acara sembayangan Cheng Beng

SEMARANGMatahari masih muncul malu-malu saat pandangan mata orang-orang sudah tertuju ke arah tenggara. Dari kejauhan, warga Jalan Layur, Semarang melihat kepulan asap tebal membumbung ke angkasa. Sebagian mengira kepulan asap akibat sampah yang dibakar. Lainnya masih cuek terhadap penampakan itu.

Bangunan rumah abu Kong Tik Soe yang terbakar, Kamis (21/3/2019) pagi. Foto: metrojateng.com

Namun siapa sangka, yang terbakar bukanlah sampah belaka. Rupanya berada tak jauh dari kampung itu, tepatnya di Jalan Gang Lombok, ada sebuah bangunan tua bergaya Tionghoa yang diselimuti bara api. Letaknya tepat di samping Klenteng Tay Kak Sie.

Bangunan itu terbakar tepat pukul 05.00 pagi tadi. “Yang terbakar rumah abu Kong Tik Soe. Tay Kak Sie aman,” begitu tulis Kong Pek Hay, seorang budayawan Tionghoa saat mengabarkan peristiwa kebakaran kepada metrojateng.com, Kamis (21/3/2019).

Pek Hay menyarankan agar menghubungi rekannya bernama Soni Zhang untuk menceritakan sejarah panjang Kong Tik Soe. Soni kebetulan Wakil Sekretaris Tay Kak Sie. Saat dikontak, Soni mengaku sudah berada di depan bangunan Kong Tik Soe yang ludes dilalap api.

Rumahnya yang berada di Kebon Agung, Jalan MT Haryono cukup dekat dengan lokasi kejadian. Soni bilang jauh sebelum Indonesia merdeka, bangunan Kong Tik Soe sudah tegak berdiri di Gang Lombok.

Tepat saat zaman pemerintahan Hindia-Belanda, katanya sekelompok warga Tionghoa yang berjuang melawan tentara kolonial. Pejuang dari etnis Tionghoa itu dikenal dengan sebutan pasukan kapiten.

Letak rumahnya berpencar di sekitar Pecinan. Mereka kemudian membuat kantor yang sekarang dipakai untuk Kong Tik Soe.

Semula, markas para kapiten dibangun pada 1837 silam. Gedungnya bernama Kongkoan. Warga Tionghoa setempat berjuang mengusir tentara kolonial sampai masa kemerdekaan Indonesia tiba pada 1945.

“Dari yang awalnya bernama Kongkoan, lalu bangunannya difungsikan sebagai balai pengobatan. Yayasan Kong Tik Soe menaungi perawatan abu jenazah dan mengelola krematorium di Kedungmundu. Sedangkan Yayasan Tjie Lam Tjay mengelola rumah pengobatan dan penyimpanan arsip-arsip,” katanya.

Sebelum terbakar, Soni mengingat Kong Tik Soe memiliki dua altar untuk persembahan bagi dewa-dewi. Terakhir kali ada acara sembayangan Cheng Beng untuk menghormati arwah leluhur dan prosesi sembayangan tiap bulan ketujuh belas.

“Ada ratusan sinci yang disimpan di situ. Biasanya untuk dibuat sembayang bagi sanak keluarganya. Sinci yang ada di Kong Tik Soe rata-rata dari para pejuang Tionghoa. Saya khawatir ada banyak sinci yang ikut terbakar juga,” tuturnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.