Komunikasi Ketawadhuan Tidak Perlu Dipertontonkan

Buku Tawadhu dalam Bingkai Ilmu Komunikasi

 

SEMARANG – Disrupsi informasi yang menyebabkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi globalisasi membuat tata komunikasi menjadi semakin jauh dari ketawadhuan dan nilai-nilai budaya ketimuran. Hoax yang semakin marak dan Hate Speech yang semakin berani membuat model interaksi sosial semakin memprihatinkan. Kondisi itulah yang melatarbelakangi Dosen yang juga Praktisi Komunikasi, Alkomari, M.I.Kom kemudian mencurahkannya dalam sebuah buku berjudul, “Tawadhu dalam Bingkai Ilmu Komunikasi”.

Buku yang dicetak oleh penerbit, Pena Persada ini mulai beredar pada Akhir Desember 2020.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prof. Arif Darmawan SU dalam pengantarnya dalam buku ini menyampaikan bahwa Buku yang diberi judul “Tawadhu dalam Bingkai Ilmu Komunikasi” mengingatkan dirinya pada pengertian komunikasi. Elemen komunikasi yang mendasar, yakni komunikasi sebagai suatu kebutuhan (need or right), sebagai kegiatan yang kreatif, dan sebagai sumber (resource).

Komunikasi jika dipandang dari sudut konsep sangatlah luwes, perwujudannya dapat berupa komunikasi antar pribadi, antar lembaga dan komunikasi massa. Komunikasi dengan tujuan untuk menciptakan kebersamaan (commonness) antar pihak-pihak yang berinteraksi. Kebersamaan mengartikan lambangan itulah menjadi kunci keberhasilan komunikasi.

“Pada buku Tawadhu dalam Bingkai Ilmu Komunikasi, komunikasi dipandang sebagai pemahaman tersebut, bahkan komunikasi dapat dipandang sebagai persuasi. Pada pemahaman ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Carl Hovland, Iriving Janis dan Harold Kelly. Juga Warren Weaver: yang menyebutkan komunikasi sebagai semua prosedur yang bisa mempengaruhi satu pemikiran terhadap pemikiran lainnya,” katanya.

Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah Amir Machmud menuturkan, buku yang berfokus pada ketawadukan ini, dipandangnya akan menjadi bagian dari kampanye sikap mulia itu yang patut didukung.

“Dengan merawat dan mengembangkan budaya tawaduk, sikap komunikasi kita bakal lebih punya rasa, hati, dan keindahan,” tuturnya.

Dikatakan, praksis komunikasi baik personal, interpersonal, maupun komunikasi massa, akan menemukan eksotisitas tersendiri manakala para pelakunya berkesadaran mengarusutamakan katawadukan sebagai sikap dasar.

“Disrupsi, anomali, kemerebakan hoaks, dan kejungkirbalikan tata interaksi sebagai fenomena dan nilai-nilai komunikasi kiranya membutuhkan sentuhan lain perlawanan berupa kampanye ajakan kembali ke khitah ketawadukan,” tandasnya.

Alkomari sebagai penulis buku ini mengutarakan, dalam dinamika masyarakat yang sudah memasuki era digitalisasi seperti sekarang ini, banyak aktivitas termasuk tata komunikasi yang mengabaikan aspek-aspek sosial. Selain itu komunikasi yang dilakukan masyarakat cenderung memiliki kepentingan-kepentingan yang kurang bermanfaat bagi publik, melainkan hanya kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

“Ketawadhuan itu secara prinsip merupakan komunikasi yang tidak dipertontonkan atau tidak ditampilkan melalui media, murni hanya konsumsi untuk orang yang sedang melangsungkan komunikasi saja,” imbuhnya.

Selain komunikasi ketawadhuan, beberapa tulisan yang ada dalam buku ini juga berkaitan dengan komunikasi interpersonal, metakomunikasi, komunikasi politik, hingga komunikasi simbolik. Diharapkan buku ini semakin menambah perbendaharaan buku dengan kajian bidang Ilmu Komunikasi serta Ilmu Sosial.(ris)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.