Klaim Tak Ada Korban, Abu Tholut Tolak Ajakan Rekonsiliasi BNPT

abu tholut rekonsiliasi korban teroris
Abu Tholut saat di Kantor Kemenkumham Jateng. (foto: metrojateng.com)
SEMARANG – Proses rekonsiliasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan mempertemukan mantan narpidana terorisme (eks napiter) dan korban ledakan bom, ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak. Menurut mantan kombatan perang Afghanistan, Abu Tholut bahwa pertemuan tersebut merupakan sebuah hal yang baik untuk memupus dendam diantara eks napiter dengan korban ledakan bom.Abu menganggap pemerintah mulai punya niatan baik untuk menghilangkan sekat dan dendam antara kedua belah pihak.”Karena judulnya silaturahim kebangsaan. Berarti kan (pemerintah) mencoba untuk menyambung tali kasih sayang supaya tidak ada dendam lagi,” ungkap pria yang pernah tersangkut kasus teror di Aceh dan beberapa daerah tersebut, kepada¬†metrosemarang.com, Minggu ( 4/3).Ia menganggap ini merupakan rekonsiliasi pelaku dan korban ledakan bom yang pertama kali digelar Pemerintah Indonesia.Dalam skala kecil, dirinya dan rekan-rekan sesama eks napiter hanya sempat bersua dengan para keluarga korban dalam setiap sidang kasus terorisme di Bali maupun Poso.”Misalnya Ali Imron ditemukan dengan korban yang masih hidup. Atau dengan keluarganya, itu sudah pernah,” bebernya.Ia sendiri mengaku sempat diundang BNPT untuk menghadiri rekonsiliasi antara pelaku dan korban bom selama empat hari di Jakarta. Namun, undangan tersebut ia tolak dengan alasan sibuk berdakwah.Selain itu, dalam keterlibatannya dalam sejumlah kasus teror tidak pernah menimbulkan korban jiwa.”Ngapain datang. alau saya kan enggak ada korbannya. Siapa korban saya. Lagian saya pas berbarengan sibuk menghadiri pengajian di beberapa tempat,” tutur bekas mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM angkatan tahun 1981 itu.Lebih jauh lagi, ia menyoroti peran pemerintah pusat maupun daerah yang minim melakukan pendampingan bagi eks napiter.Fasilitas sarana dan prasarana di lembaga pemasyarakatan yang selama ini dipakai untuk menahan terpidana terorisme pun, baginya jauh dari layak. “Fasilitas lapas ditingkatkan saja. Kita bisa maklumi kalau pemerintah tidak membeikam modal. Kita tidak akan minta apa-apa. Tapi harus diberi ruang untuk kembali bersosialisasi ditengah masyarakat,” bebernya.Ia juga meminta pemerintah untuk menghapus diskriminasi yang masih kerap dialami para eks napiter. Sebab, banyak rekannya yang hidup dibawah garis kemiskinan.Ia mengatakan dengan mempermudah izin pembuatan KTP maupun layanan publik lainnya, diharapkan mampu meringankan beban mereka.”Mestinya tidak ada diskiriminasi. Karena sikap itu malah menjauhkan mereka dari masyarakat. Pemerintah semestinya turun tangan menyikapi persoalan ini. Tidak sedikit eks napiter yang diusir masyarakat dari kampung halamannya. Jika ini dibiarkan maka timbul dendam berkepanjangan. Anak-anak eks napiter akan dididik dalam pendidikan yang penuh dendam. Situasi ini sama saja mencetak calon teroris baru,” ujar Mantan Ketua Mantiqi VI Jamaah Islamiyah wilayah Sumatera dan Aceh tersebut. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

33 − 27 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.