Kisah Para SPG Mengenang Riwayat Sri Ratu yang Hampir Tamat

Satu per-satu, Pasaraya Sri Ratu satu tumbang. Puluhan tahun para pekerja menggantungkan hidup di mal legendaris tersebut. Kini mereka hanya bisa pasrah.

Mal Sri Ratu di Jalan Pemuda. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Sebuah plang besar berlogo mahkota masih terpasang di atap gedung Jalan Pemuda, Semarang tersebut. Tulisan Pasaraya Sri Ratu masih terpampang jelas di bawahnya.

Beberapa orang terlihat menunggu pasar modern itu buka pukul 10.00 WIB. Desi Rahmawati tampak duduk santai di depan Mal Sri Ratu. Kabar berhenti beroperasinya Sri Ratu membuatnya bergegas mendatangi mal tersebut sejak pagi hari.

Dari rumahnya di Jalan Kawi, Semarang, ia berniat menemui rekannya yang bekerja di tenant baju yang ada di Sri Ratu. Tak lain untuk saling curhat mengenai kondisi terkini yang dialami manajemen Sri Ratu.

“Apalagi saya kan pernah jadi SPG (Sales Promotiom Girl) di Sri Ratu, makanya sekalian mau ketemu sama teman di dalam. Sekalian mau beli baju, kalau sudah saling kenal kan gampang nyari yang murah,” aku perempuan berusia 35 tahun ini kepada metrojateng.com, Selasa (19/2/2019).

Angka diskon 70 persen tertera jelas di stand pakaian yang dijual di Sri Ratu. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

Perasaannya campur aduk saat tahu Sri Ratu akan tutup per 28 Februari 2019 nanti. Kondisi keuangan yang kembang kempis diakuinya menjadi alasan paling logis bagi pemilik pasar modern itu untuk mengakhiri usahanya.

“Saya sebenarnya enggak tega. Sedih juga karena ini toko tertua lho mas. Pastinya saya kaget pas tahu mau ditutup. Di sisi lain, saya kasihan pengeluarannya enggak cucuk dengan pendapatannya. Buat bayar pegawainya saja sudah susah banget,” katanya.

Desi sempat bekerja sebagai SPG Sri Ratu selama 11 tahun. Di tahun terakhirnya ia berkerja ketika bulan puasa 2018 kemarin, kondisi Sri Ratu sudah sepi pembeli.

Terakhir ia bekerja, penjualan pakaian di tenant Sri Ratu merosot drastis hingga Rp 5 juta per bulan dari semula masih bisa meraup pendapatan Rp 15 juta. Pendapatan sebesar itu sangat minim untuk membayar gaji karyawan.

Di tengah kondisi serba sulit, ia sempat dipindahtugaskan oleh pihak manajemen mal ke Toserba ADA. Namun, suasana kerja yang berbeda membuatnya memilih berhenti bekerja dan beralih jadi instruktur senam.

“Sudah 11 tahun kerja di sini sejak 2006. Waktu awal kerja, Sri Ratu masih jaya. Transaksi penjualannya sebulan bisa menembus Rp 30 juta. Kondisinya agak sepi pembeli ketika Mal Paragon beroperasi,” kata warga Jalan Kawi, Semarang tersebut.

Suasana Mal Sri Ratu di Jalan Pemuda. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

Mal Sri Ratu selama ini memberikan kenangan mendalam baginya. Selama ia bekerja di tenant pakaian, ia mengenang Sri Ratu punya banyak pelanggan. Rata-rata berasal peranakan Tionghoa. Mereknya pun komplit. Ruangan setiap tenant terbilang luas.

“Jadinya mau milih barang tidak umpel-umpelan. Merek baju paling legendaris banyak dijual ketika itu. Itulah yang membuat Sri Ratu jadi pusatnya perbelanjaan murah di Semarang,” ujarnya.

Ia mendengar pasca ditutup, gedung Mal Sri Ratu akan disewakan oleh Ace Hardware. Nantinya hanya menyisakan sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk foodcourd.

Penutupan Sri Ratu Pemuda ini merupakan imbas dari kesulitan bisnis yang didera pemiliknya lima tahun terakhir. Sri Ratu Peterongan sebelumnya juga sudah tutup.

Ia menilai manajemen Sri Ratu memperlakukan para SPG dengan baik. Jarang ada SPG yang diberhentikan sepihak. “Kalau ada SPG sudah kerja lama dan manut pasti dipertahankan. Saya kerja di sini dari sejak belum punya suami sampai bersuami. Banyak banget mas kenangannya. Terutama kalau dulu sering piknik bareng teman-teman. Malahan manajemen Sri Ratu sering ngadain piknik setahun sekali. Jadi kita tambah guyub,” bebernya.

Kenangan yang paling membekas dalam benaknya tak lain seringnya pihak manajemen mengadakan ragam lomba bernyanyi dan menari saban acara tujuh belasan.

“Suasana di Sri Ratu itu membekas banget. Saya itu kan suka ikut lomba nyanyi, dancer dan sering menang pas tujuh belasan. Terutama saat Imlek pasti ada arak-arakan yang sangat mewah. Saya dapat banyak hadiah dari Sri Ratu,” tuturnya.

“Saya dapat piala, voucher belanja dan hadiah lainnya. Lagian enaknya di sini kalau ikut tampil lomba, yang nonton semua costumernya,” sambungnya.

Sedangkan Maria Nur Khasanah, seorang SPG Sri Ratu hanya bisa pasrah dengan berhentinya mal itu. Ia yang sudah kerja selama 19 tahun di Sri Ratu juga punya banyak kenangan yang membekas.

“Saya kan rumahnya hanya di pinggiran Jalan Pemuda, jaraknya 15 menit dari sini. Ketika lulus dari SMA 14, lalu mendaftar kerja di Sri Ratu dan langsung diterima. Makanya habis ini ditutup, saya maunya di rumah dulu sambil cari peluang kerja lainnya,” ungkapnya.

Bisa dikatakan Sri Ratu telah menjadi rumah kedua buat Maria. Ibundanya mendukung penuh pekerjaannya sebagai SPG. Pun dengan perjuangannya untuk tetap berjalan kaki dari rumah menuju Sri Ratu.

“Dari dulu sampai sekarang saya tetap jalan kaki kalau berangkat kerja. Memang rumahnya dekat dan sudah nyaman kerja di sini sampai 19 tahun,” katanya.

Sejauh ini manajemen mal rutin memberikan gaji sesuai UMR. Bayaran yang jarang didapatkan dengan ragam kemudahan fasilitas yang ada di Sri Ratu. (far)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.