Kisah Nyata PK: Tak Hanya Menemani Bernyanyi, Mela Juga Temani Tidur

Suasana di sebuah room karaoke di kawasan Pungkruk, Jepara. Foto: metrojateng.com/Roby Shani
Suasana di sebuah room karaoke di kawasan Pungkruk, Jepara. Foto: metrojateng.com/Roby Shani

Janda beranak dua dari Kota Magelang itu bertubuh mungil. Tingginya tidak lebih dari 165 centi meter. Rambut sebahu dicat pirang. Kuku kaki dan tangannya dicat merah. Warna kulitnya kuning langsat. Dia adalah Mela (bukan nama sebenarnya), 20, salah seorang pemandu karaoke (PK) di pusat hiburan karaoke Pungkruk, Jepara.

Bukan tanpa alasan Mela memilih terjun kedua hiburan karaoke. Lantaran himpitan ekonomi, Mela mengaku terpaksa menemani lelaki haus hiburan dengan bernyanyi di dalam room berukuran tidak lebih dari 18 meter persegi di bawah sinar lampu remang-remang warna-warni.

Mulanya Mela mengaku risih ketika menemani tamu bernyanyi sembari diraba-raba. Bahkan, saat kali pertama terjun ke dunia hiburan, Mela mengaku menangis saat menemani tamu bernyanyi sembari menenggak minum-minuman memabukan.

“Pertama kerja disini saya pernah nangis saat dipaksa tamu harus minum-minum, tapi sekarang ya, sudah biasa malah seringkali tamu-tamu yang saya kerjai sampai mabuk,” kata Mela sedikit menggoda.

Seiring berjalannya waktu, Mela kian luwes menemani tamu-tamu bernyanyi. Dipeluk, dirangkul, dicium, sampai diraba bagi Mela sudah biasa. Bagi janda bernak dua itu bagian dari servis kepada tamu.

“Kalau sekarang dicium terus diraba-raba tamu sudah biasa, mas,” ucap Mela dilanjut menghisap sebatang rokok dalam-dalam.

Dua tahun bekerja menjadi PK di Pungkruk, Mela kian lihai memikat tamu-tamunya. Saweran yang Mela dapat kian hari, kian bertambah. Tahun pertama menjadi PK, saweran yang Mela dapat dalam semalam paling banyak Rp. 200 ribu, tapi kini dalam semalam Mela mampu mendapatkan saweran sedikitnya Rp. 500 ribu.

Tidak hanya sekedar menemani bernyanyi, Mela pun berkenan menemani tidur asalkan uang jasanya cocok. Mela pun memasang tarif untuk jasa plus. Sekali kencan, tak tanggung-tanggung, Mela membandrol jasa service plusnya minimal Rp. 1 juta.

“Kalau untuk cek in, saya memang pilih-pilih. Pilih yang duitnya banyak terus diploroti sampai habis,” kata Mela enteng, sembari menuang bir ke dalam gelas besar.

“Ya, nggak langsung ke hotel. Diajak dulu beli makan, pakaian, aksesoris, dan lain-lain. Lha, kok enak aja langsung cek in,” imbuh Mela.

Kini setelah mencuat kabar penutupan kawasan karoke Pungkruk, Mela mengaku tak tahu harus berbuat apa. Apakah harus pulang kampung merawat anak-anaknya atau tetap menjalani profesi sebagai PK di kota lain, Mela belum dapat memutuskan.

“Yang penting sekarang apa yang ada dijalani dulu, mas. Lagian sebentar lagi puasa, tahun lalu kalau puasa saya dirumah merawat anak-anak. Syukur-syukur kalau ada pria baik-baik yang mau mengajak berumahtangga saya juga mau,” tutup Mela sembari mematikan rokok di asbak yang sudah penuh puntung-puntung rokok.  (MJ-17)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 18 = 22

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.