Kisah Jhon Kei Jadi Pendeta Menjelang Pembebasan Bersyarat

Saat ini, Jhon Kei juga sudah belajar khotbah di depan mimbar.

SEMARANG – Dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin selama beraksi di Ibukota Jakarta, Jhon Refra alias Jhon Kei kini tengah sibuk memperdalam ayat-ayat Injil selama di sel tahanan.

 

Foto: Kalapas Kedungpane, Dadi Mulyadi bersama Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas), Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jawa Tengah, Marasidin Siregar saat meninjau Lapas Kedungpane. (fariz fardianto/metrojateng.com)

 

Informasi mengenai perubahan perilaku Jhon Kei tersebut diungkapkan oleh Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas), Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jawa Tengah, Marasidin Siregar, tatkala ditemui metrojateng.com, di sela kunjungannya ke Lapas Kelas IA Kedungpane, Ngaliyan, Kamis (18/4/2019).

Marasidin bercerita Jhon Kei yang tercatat sebagai narapidana kasus pembunuhan, saat ini mendekam di Lapas Permisan, Nusakambangan. Penempatan Jhon Kei ke lapas tersebut atas berbagai pertimbangan yang dilakukan petugas.

“Dari semula dia dimasukan ke sel high risk Lapas Kelas I A Batu, kemudian karena ada perubahan perilakunya ke arah yang lebih baik, terutama tekun memperdalam Kitab Injil dan emosinya sudah mulai bisa dikendalikan, maka Jhon Kei akhirnya kami pindahkan ke sel minimum security di Permisan,” kata Marasidan.

Ia mengaku tak gampang untuk memproses pemindahan narapidana dari sel high risk ke minimum security. Ada banyak syarat mutlak yang wajib dipenuhi oleh sang narapidana.

“Napi yang dipindah ke medium atau minimum security yang sudah berubah perilakunya menjadi lebih baik. Kalau seperti napi teroris yang tidak mau mengakui NKRI, maka harus tetap tinggal di high risk,” paparnya.

Perubahan perilaku Jhon Kei yang terus menunjukkan tren positif, menjadi alasan utama untuk memindahkan pria asal Kampung Kei Ambon itu ke minimum security.

Ia mengaku tahu persis sikap Jhon Kei selama di penjara lantaran sempat menjadi Kalapas Batu beberapa tahun lalu.

“Dia sekarang di lapas minimum Security. Kelihatannya beliau sudah mau jadi pendeta. Saya tahu persis dia perubahannya seperti apa karena saya pernah di Lapas Batu. Saya juga bekas Kalapas Batu. Posisi Jhon Kei sekarang di Lapas Permisan,” tegasnya.

Di Nusakambangan, kata dia, ada ratusan sel high risk yang dibangun di Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih. Sedangkan di Lapas Kembang Kuning dan Lapas Permisan, pemerintah telah membangun sel dengan dua konsep pengamanan yakni medium security dan minimum security.

Menghuni sel minimum security seperti Jhon Kei, lanjutnya, punya kelonggaran tersendiri. Setiap narapidana minimum security boleh dijenguk istri dan anaknya. Keluarganya boleh tinggal di lingkungan lapas selama seminggu. “Cuma biaya menginapnya ditanggung keluarganya sendiri. Kami cuma tanggung biaya hidup narapidananya saja,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, Jhon Kei terus berusaha bertaubat dan ingin menjadi pendeta Kristen menjelang masa pembebasan bersyarat yang rencananya diberikan oleh pihak lapas pada 2020 mendatang.

“Yang penting, selama menjalani masa pidana dia tidak ada pelanggaran dan berkelakuan baik, maka bisa dibebaskan bersyarat. Salah satunya Jhon Kei,” ungkapnya.

Saat ini Jhon Kei juga sudah belajar khotbah di depan mimbar. Jumlah jemaatnya cukup banyak dan kebanyakan dari para narpidana Permisan yang menganut agama Kristen.

“Jhon Kei mulai hijrah jadi pendeta tiga tahun lalu. Sejak saya datang ke Lapas Batu, saya lihat Jhon Kei sudah mendalami ayat-ayat di Kitab Injil,” ujar Marasidin. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.