Kian Marak, Penyebaran Hoax di Medsos Capai 92,4 Persen

SEMARANG – Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mewaspadai maraknya aksi penyebaran hoax lewat jejaring media sosial (medsos). Pasalnya, berdasarkan analisis pihak kepolisian, penyebaran hoax berisi artikel sosial dan politik di medsos telah mencapai 92,4 persen.

Diskusi Pilkada Bebas SARA, di Universitas Muhamadiyah Semarang. Foto: fariz fardianto

“Bentuk hoax yang dominan dilakukan adalah dengan menyebar gambar sebanyak 37,5 persen, tulisan 62,1 persen, dan video 0,4 persen. Sementara media penyebarannya, radio 1,2 persen, email 3,1 persen media cetak 5 persen, televisi 8,7 persen, web 34,9 persen, aplikasi chat 62,8 persen, dan media sosial 92,4 persen,” ungkap Analis Kebijakan Madya Div Humas Mabes Polri, Kombes Pol Sulistyo Pujo Hartono, dalam diskusi Pilkada Bebas SARA, di Unimus Kedungmundu Semarang, Kamis sore (24/5).

Ia menyebut hoax kini masih menjadi momok menakutkan dalam setiap perhelatan Pilkada serentak. Hal ini karena hoax berpotensi memicu konflik, kecemasan dan mematik rasa kebencian.

Persebaran hoax mengenai isu sosial politik mencapai 91,8 persen. Kemudian, katanya, hoax yang mengangkat isu SARA 88 persen, isu kesehatan 41,2 persen, isu makanan dan minuman 32,6 persen, dan soal penipuan 30 persen.

Karenanya, ia mengimbau kepada warganet supaya mampu menciptakan jurnalisme yang sehat. “Jika hoax terus disebar, ini bahaya. Keadaan yang kondusif bisa terganggu,” jelasnya.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, M Tafsir mengklaim situasi Pilkada di wilayahnya kini sedang kondusif.

Dia mengaku bersyukur atas situasi keamanan yang kondusif selama tahapan pilkada ini. Namun, ada dua dugaan atas situasi kondusif tersebut, yakni dinamis atau permisif.
“Kita tentu tidak ingin terbangun suasana tenang yang negatif. Jangan golput, pilih calon dengan cara yang rasional,” katanya.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas ulama untuk mendorong umat berpastisipasi pada pilkada. Muhammadiyah sendiri, sudah menghadirkan kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur agar bisa dikenal oleh umat.

Sementara itu pengamat politik dan pemerintahan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Yuwanto menilai realitas pilkada sering menunjukkan kepribadian ganda. Di satu sisi menunjukkan wajah memesona penuh harapan, di bagian lain terdapat sisi gelap. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 84 = 88

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.