Ketika Fogging Tak Mempan Bunuh Nyamuk Aedes Aegypti

Asap fogging berlebihan justru dikhawatirkan membunuh hewan-hewan lain di lingkungan rumah warga.

SEMARANG – Dinas Kesehatan Jawa Tengah bakal memperketat aturan penggunaan fogging untuk penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Dinkes Jawa Tengah, Yulianto Prabowo menilai asap fogging yang dikeluarkan berlebihan justru tidak akan mampu membasmi jentik-jentik nyamuk aedes aegypti.

“Jentik nyamuk itu tidak akan dapat dibasmi hanya dengan fogging. Soalnya jentik nyamuk aedes aegypti yang jadi penyebab penularan DBD dua hari setelah penyemprotan justru berkembangbiak lebih pesat lagi. Makanya kami sedang memperketat penggunaan fogging saat DBD marak di beberapa wilayah,” ujarnya saat dihubungi¬†metrojateng.com, Jumat (18/1/2019).

Kasus penularan DBD di wilayahnya saat ini sedang meningkat. Yulianto mengatakan, dalam kurun waktu 1 Januari sampai 18 Januari, jumlahnya mencapai 75 kasus.

Penyebaran DBD tertinggi berada di Kota Semarang dan Kota Tegal. Ia mengingatkan kepada masyarakat untuk meminimalisasi penggunaan fooging. Sebab, selain membuat jentik nyamuk kian berkembangbiak, ia khawatir asap fogging justru membunuh hewan-hewan yang ada di lingkungan rumah warga.

“Bukannya memberantas jentik nyamuk, malahan yang ada banyak kupu-kupu, kunang-kunang dan capung di dekat rumah warga banyak yang mati. Kan sayang sekali jika hal itu dilakukan. Lebih baik tiap kepala keluarga menggiatkan lagi 3M,” bebernya.

Ia menyebut pembersihan bisa dimulai dari areal genangan air sekitar rumah. Selain itu, kubangan air di dispenser maupun alat rumah tangga lainnya harus disterilkan.

Sejauh ini, pihaknya belum menemukan kasus KLB akibat penyebaran DBD. Ia menampik anggapan Bupati Sragen bahwa wilayah itu sudah ditetapkan KLB. “Belum KLB Itu. Karena perbandingan angka penularannya dihitung setiap dua bulan. Ini kan baru setengah bulan,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.