Kerupuk Puli, Hidangan Utama Peringatan Nisfu Syaban di Jepara

Kerupuk puli menjadi hidangan utama saat peringatan Nisfu Syaban. Itu karena kaitannya dengan Sunan Kalijaga yang ingin mempersatukan umat.

JEPARA Puluhan emak-emak di Desa Kendengsidialit Jepara bersama-sama membuat kerupuk puli di balai desa setempat. Kerupuk yang terbuat dari bahan baku beras ini memang menjadi menu ‘sakral’ dalam peringatan Nisfu Syaban.

Warga Desa Kendengsidialit Jepara menyiapkan kerupuk puli untuk peringatan Nisfu Syaban. Foto: metrojateng.com

Hari ini, warga Desa Kendengsidialit sedang memperingati hari pengampunan dosa yang jatuh pada tanggal 15 bulan kedelapan tahun Islam.

Selain hari pengampunan dosa, Nisfu Syaban juga identik dengan sejarah Ratu Kalinyamat. Sehingga kerap kali diperingati dengan kirab budaya.

KH Abdul Gofur, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Kendengsidialit menuturkan bahwa Sunan Kalijaga ingin mempersatukan umat Islam dan non muslim saat itu dengan momentum Nisfu Syaban.

Semua orang diajak memasak nasi yang diberi kunyit, garam dan bonggol serai, yang kemudian dikenal saat ini kerupuk puli.

“Jadi, kerupuk puli menjadi hidangan utama saat peringatan Nisfu Syaban. Itu karena kaitannya dengan Sunan Kalijaga yang ingin mempersatukan umat,” ujarnya, Minggu (21/4/2019)

Sementara, Kepala Desa Kendengsidialit, Kahono Wibowo menyampaikan, tradisi baratan itu dilakukam rutin tiap tahun dalam memperingati hari Nisfu Syaban.

“Ini momen kita bersama untuk berdoa demi kesejahteraan dan kerukunan warga. Selaib membuat kerupuk puli, juga diadakan kirab di malam hari,” tuturnya.

Dia berharap, tradisi yang menjadi peninggalan leluhur tetap dilestarikan. “Kami sediakan 200 kilogram beras untuk buat puli. Harapannya tradisi yang baik terus dapat dilestarikan,” tandas dia.

Rencananya, kerupuk puli itu akan dikirab nanti malam bersama dengan berbagai macam replika perahu, raksasa, mobil, dan hewan ternak.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.