Keripik Tempe Yang Masih Eksis di Era Pandemi

KENDAL- Pandemi covid-19 yang tidak kunjung berakhir mengakibatkan penurunan omset usaha keripik tempe di Dukuh Tegolayang. Lain halnya dengan usaha milik Sutariyah (49) bersama sang suami masih bertahan demi perekonomian keluarganya.
“Sebelum pandemi covid-19, seminggu rata-rata penjualan keripik tempe berkisar 200 bungkus. Namun selama masa pandemi, omset penjualan  turun menjadi setengahnya. 200 bungkus keripik tempe bisa terjual sekitar dua minggu,” ujar Sutariyah, pengusaha keripik tempe Dukuh Tegolayang, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon.
Keripik tempe yang diproduksi ada dua jenis ukuran yaitu kecil dan besar. Untuk penjualan, Sutariyah menyetor hasil produksi keripik tempe itu ke warung-warung di sekitar desanya dan ke beberapa desa lain.
“Penjualan keripik tempe saat ini masih dilingkup tiga desa tetangga, yaitu; Desa Pesawahan, Karangmulyo, dan Gemuh,” lanjut Sutariyah.
Satu tempe kedelai yang masih mentah sebagai bahan baku keripik, dapat menghasilkan 10 bungkus keripik. Untuk penjualan keripik per bungkusnya dibandrol Rp. 7 ribu sampai Rp. 13 ribu. Sementara keuntungan yang diraih sebesar 20 persen setelah dipotong modal dan biaya lainnya, seperti pembelian minyak goreng, tepung, bumbu keripik, dan plastik.
“Saya berharap usaha ini terus maju dan berkembang pesat serta dapat menjadi saluran usaha bagi orang lain,” ujar Kamaliya seorang pembeli.(tys)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.