Keren! Limbah Plastik di Borobudur Disulap jadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

Bila setiap hari wisatawan membuang sampah plastik dalam jumlah yang banyak, bagaimana nasib generasi bangsa ini.

MAGELANG – Kemegahan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, sudah diakui sampai seluruh penjuru dunia. Candi peninggalan nenek moyang ini sudah dikunjungi puluhan juta wisatawan. Namun siapa sangka, di balik kemegahan dan keagungannya, candi ini meninggalkan persoalan yang cukup memprihatinkan, yaitu limbah plastik terutama limbah botol air mineral.

Hadi Prayitno, warga Susukan Desa Tegalarum Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Jawa Tengah, dengan berbagai karya seni dari limbah plastik yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Setiap wisatawan yang datang, sudah dapat dipastikan membawa bekal minuman. Sayangnya, bekal minuman yang dibawa tidak dimasukkan dalam tumbler atau botol sendiri, melainkan kemasan air mineral. Alasannya klasik, mereka ingin praktis dan tidak banyak membawa beban. Usai minum, botol bisa langsung dibuang ke tempat sampah.

Kondisi itulah yang menimbulkan rasa prihatin dari Hadi Prayitno (45), warga yang tinggal di Dusun Susukan Desa Tegalarum Kecamatan Borobudur. Rumah tinggalnya hanya berjarak sekitar 4 km dari Candi Borobudur. Saat bekerja di salah satu perusahaan, hampir setiap hari ia harus masuk ke Taman Wisata Candi Borobudur. Di sanalah ia melihat adanya persoalan sampah plastik yang tidak ada jalan keluarnya.

Ditemui di rumahnya, Selasa (10/9/2019), Hadi mengaku benar-benar prihatin dengan kondisi sampah di Taman Wisata Candi Borobudur. Ia melihat, sekitar 50 persen limbah yang dihasilkan para wisatawan yang berkunjung adalah botol plastik.

“Saya memang sangat prihatin dengan kondisi itu. Candi yang begitu diagungkan wisatanya namun tidak dipikirkan imbas sampahnya,” ucap Hadi.

Ia hanya berpikir, bila setiap hari wisatawan membuang sampah plastik dalam jumlah yang banyak, bagaimana nasib generasi bangsa ini. “Saya berpikir tidak untuk diri sendiri, namun untuk anak cucu dan generasi selanjutnya. Apakah mereka harus ¬†dihadapkan pada persoalan sampah plastik yang membutuhkan waktu puluhan tahun agar bisa terurai?” ungkapnya.

Menurut ayah dua orang putra ini, sampah plastik sebaiknya tidak dijadikan musuh, karena kalau dimusuhi maka persoalan tidak akan berhenti. “Saya mencoba menjadi sahabat sampah plastik dengan mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai seni sekaligus nilai jual,” ujarnya.

Maka sejak dua tahun lalu, ia mulai mengambil sampah plastik terutama botol air mineral yang berasal dari Taman Wisata Candi Borobudur. Botol-botol itu dibuat mainan dengan karakter binatang. Ada katak, ikan, burung dan semacamnya. Ada pula yang dibuat hiasan bunga.

Yang menarik, ia juga membuat bonsai plastik. Bahan bakunya dari limbah galon air mineral. Galon terlebih dahulu dipotong-potong kemudian di bakar hingga terbentuk semacam pot. Setelah jadi pot, baru ditambah dengan ornamen bunga sehingga mirip dengan bonsai.

Karya lain yang tidak kalah menarik adalah patung-patung binatang berukuran besar seperti aslinya binatang itu. Antara lain kuda, harimau, burung rajawali, pelikan dan juga banteng. “Untuk banteng tidak saya buat sebesar aslinya, namun ukurannya lebih kecil,” ungkapnya.

Sama halnya dengan bonsai, untuk binatang-binatang ukuran besar, ia menggunakan limbah galon. Sedangkan untuk bunga, lebih banyak menggunakan limbah botol air mineral.

Ada juga limbah tempat minum ayam dan limbah lain yang berbahan plastik.
Proses pembuatan patung cukup memakan waktu, karena harus melalui proses pembakaran terlebih dahulu.

Nilai Jual Tinggi

Hadi mengatakan, hasil karyanya ini sudah banyak mendapatkan apresiasi. Bahkan saat ini ia sedang mengerjakan souvenir bunga pesanan dari salah seorang pejabat di Semarang yang akan purna.

Kreativitas Hadi Prayitno turut membantu mengurangi limbah plastik yang sudah semakin mengkhawatirkan. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Karena keahliannya itu pula, ia sering diundang ke berbagai instansi maupun sekolah untuk berbagi ilmu. “Saya sering diundang untuk membanggikan ilmu mengolah limbah plastik menjadi karya seni yang punya nilai jual,” ucapnya.

Hadi mengaku, setiap hari ia memproduksi karya dari limbah plastik. Yang paling banyak membuat bunga, karena bisa dijual dengan harga murah dan cepat laku.

Untuk satu tangkai bunga ia menjual dengan harga Rp 5 ribu. Ada pula yang Rp 10 ribu hingga jutaan. “Kalau untuk binatang ukuran besar, harganya bisa jutaan rupiah,” katanya.

Meskipun modal untuk membuat binatang tidaklah besar. Ia bisa menghabiskan 7 sampai 8 galon bekas yang harga per biji Rp 7 ribu. Setelah diolah melalui proses pembakaran, ia mulai membentuk dan finishing menggunakan cat semprot.

“Namun karena proses membuatnya cukup rumit, maka harga jualnya juga mahal,” terangnya.

Sedangkan untuk membuat bunga, ia cukup menyediakan alat semacam solder. Dalam waktu dekat, ia berencana membuat lampu hias menggunakan botol bekas warna hijau.

Hadi mengaku bersyukur, dari hasil karya dari limbah plastik ini, ia mampu menyekolahkan dua orang putranya di sekolah yang berbiaya cukup mahal. Dia berharap bisa karya-karyanya bisa menginspirasi orang lain agar lebih peduli dengan limbah plastik. (Ch Kurniawati)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.