Kerajaan Demak dan Kemajuan Sektor Perdagangan

Raja-raja Demak merupakan pahlawan kultural bagi masyarakat.

DEMAK – Keberadaan Kerajaan Demak yang dipimpin Raden Patah sebagai bukti eksistensi kerajaan di pesisir utara Pulau Jawa itu dalam kekuatan politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Jejak sejarah dalam bentuk artefak sebagai peninggalan kerajaan Demak, hingga kini masih dapat dilihat.

Foto: dokumentasi

Pendiri Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat mengungkapkan, sejarah pada Abad ke 16, menunjukkan keberadaan Raden Fatah dan penerusnya seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, hingga Sunan Prawata. Dari fakta sejarah yang ada, kerajaan Demak mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa kepemimpinan Sultan Trenggana.

“Fakta menunjukkan, pada masa periode Sultan Trenggana, Demak mengalami kemajuan yang sangat luar biasa,” ujar Lestari yang akrab disapa Rerie, Rabu (4/9/2019).

Disampaikan Rerie, raja-raja Demak merupakan pahlawan kultural bagi masyarakat. Seperti Sultan Trenggana, sebagai tokoh regional telah berkontribusi dalam perjuangan. Wilayah kekuasaannya tidak hanya di Jawa, namun juga di sebagian wilayah Sumatera.

“Sebagaian besar masyarakat mengetahui sejarah, eksistensi, dan kiprah Sultan Trenggana. Pengaruh Sultan Trenggana juga hingga Malaka,” ungkap Rerie, yang tengah mengupayakan gelar Pahlawan Nasional untuk Ratu Kalinyamat, yang juga keturunan Kerajaan Demak.

Raden Fatah sebagai pendiri kerajaan Demak, diungkapkan Rerie, merupakan raja yang menganut ajaran islam pertama di tanah Jawa. Sebelumnya, wilayah kerajaan Demak berada dalam kekuasaan Majapahit.

“Pusat kerajaan Demak ada di Bintara,” kata anggota DPR RI dari daerah pemilihan Demak, Jepara, dan Kudus itu.

Kerjaan Demak saat dipimpin Raden Fatah hingga Sultan Trenggana memegang peran penting dalam bidang perdagangan. Komuditi dagang Demak dengan Malaka dan daerah adalah beras.

Diuraikan Rerie, Raden Fatah berkuasa pada akhir Abad 15. Raden Fatah menikah dengan putri Cina. Dari pernikahannya itu, Raden Fatah diberi karunia enam anak. Salah satunya, yaitu Trenggana yang kemudian menjadi Sultan di wilayah tersebut.

“Pada tahun 1546, Sultan Trenggana sudah menguasai Jawa, Madura, Bali, dan Angenia. Sultan Trenggana juga mengirim utusan seorang perempuan ke Banten untuk meminta bantuan melakukan penyerangan ke beberepa wilayah, termasuk juga menyerang Portugis,” tandas dia.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.