Kenalkan Sejarah Kampung Gabahan, Seniman dan Pelaku Ekonomi Gelar Bazar

Ini menjadi upaya untuk kembali membangun interaksi sesama warga yang mulai menurun di tengah serbuan minimarket.

 

Foto : Pertemuan teknis peserta Grebeg Gayeng Seni & Budaya Kampung Semarang. (Efendi/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Guna memperkenalkan sejarah Kampung Gabahan, Semarang Tengah serta meningkatkan perekonomian warga, sejumlah seniman dan pelaku ekonomi di kampung tersebut menggelar bazar bertajuk “Grebeg Gayeng Seni & Budaya Kampung Semarang”. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari mulai Sabtu (12/1/2019).

 

Ada ratusan stand yang akan turut meramaikan kegiatan tersebut. Mulai dari makanan, fashion, kerajinan tangan, kegiatan anak-anak, serta beberapa lainnya.

 

Ketua Lembaga Pemberdayaan Kelurahan, Lutfi Mathofani mengatakan kegiatan itu juga merupakan sebuah upaya untuk kembali membangun interaksi sesama warga yang mulai menurun di tengah serbuan minimarket.

 

“Perkembangan adanya minimarket di dekat perkampungan itu sudah semakin masif. Itu tidak bisa dibendung. Akibatnya guyub warga di perkampungan itu juga terlihat turun terutama di dalam transaksi jual beli kebutuhan rumah tangga,” kata Lutfi, Minggu (6/1/2019).

 

Menurut Lutfi, dengan menurunnya transaksi jual beli di warung perkampungan membuat keguyuban warga juga semakin menurun. Apalagi budaya jual-beli yang berasas kekeluargaan seperti juga tidak terjadi dalam transaksi di minimarket.

 

“Kalau semisal kita beli kebutuhan rumah tangga di kampung itu kan mungkin bisa ditawar, dan ketika uangnya kurang beberapa rupiah saja pasti penjual akan dengan senang hati menyuruh pembeli untuk membawa dulu barang dagangannya. Dengan begitu ada interaksi sesama warga yang terbangun, gotong royong dan saling membantu,” imbuh Lutfi.

 

Selain itu, memperkenalkan sejarah Kampung Gabahan sendiri menurut Lutfi sangat perlu dilakukan. Pasalnya ada sebuah sejarah tentang perdagangan makanan di Kota Semarang yang bermula dari Kampung Gabahan. Di sana merupakan tempat bermulanya perdagangan Gilo-gilo di Kota Semarang.

 

“Belum banyak yang tahu kalau ternyata dagangan Gilo-gilo itu berasal dari Kampung Gabahan ini, dan kami ingin mengenalkan itu. Kampung ini juga nantinya akan jadi kampung wisata bernama Kampung Bagilo,” kata Lutfi.

 

Sementara Perwakilan dari Kumpul Gayeng Seni & Budaya, Hermawan mengatakan konsep dari kegiatan tersebut yakni mensinergikan antar seniman serta pelaku perekonomian di Kota Semarang. Dimana mereka akan bertemu di sebuah lokasi dan berkarya bersama termasuk jualan sesuatu yang mereka buat termasuk makanan, kerajinan tangan, pakaian dan sebagainya.

 

“Karena memang kami ingin mensinergikan antara seniman juga penjual untuk bertemu di satu tempat. Itu akan membuat sarana hiburan bagi warga kampung termasuk masyarakat secara luas. Selain itu kan di sini nantinya akan ada bermacam-macam makanan khas dari Semarang tentunya yang mungkin jarang ditemukan saat ini,” kata Hermawan.

 

Hermawan juga mengatakan, dengan adanya kegiatan harapannya akan muncul sesuatu yang baru di tengah masyarakat. Termasuk seniman baru, penjual-penjual yang baru serta dagangan-danganan yang baru.

 

“Karena memang kami untuk para penjual, kami meyasar mereka yang belum punya toko namun memiliki potensi. Begitu juga dengan seniman kami meyediakan panggung untuk direspon bersama. Karena memang di Semarang ini ada banyak seniman yang kalau dari skill mereka sudah tidak diragukan lagi, namun masih banyak dari mereka yang belum terekspos,” imbuh Hermawan.

 

Bazar ini baru pertama kalinya digelar. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Kampung Gabahan, Semarang Tengah dengan menghadirkan sejumlah seniman dari lintas disiplin. Ada juga hiburan sejumlah grup musik yang akan meramaikan kegiatan tersebut seperti keroncong dari Gunung and Friend, Sakral Band, dan Didit Fals. Tidak ada pungutan biaya bagi para pengunjung yang ingin mencari hiburan serta belajar sejarah di kampung tersebut. (fen)

 

 

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.