Kemarau Panjang, Tiga Desa di Jepara Kekurangan Air Bersih

Warga juga menyediakan tandon-tandon air di jalan untuk menampung bantuan air yang datang.

JEPARA – Memasuki musim kemarau membuat sejumlah daerah di Kabupaten Jepara mengalami kesulitan air bersih. Sedikitnya ada tiga desa yang melaporkan kekurangan air bersih.

Warga mengantre air bersih. Kekeringan di Jepara mengakibatkan tiga desa kekurangan air bersih. Foto: metrojateng.com

Tiga desa tersebut adalah Desa Raguklampitan Kecamatan Batealit, Blimbingrejo Kecamatan Nalumsari dan Plajan Kecamatan Pakisaji.

Untuk Desa Raguklampitan warga bahkan harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan mandi, mereka ke sungai yang selama ini untuk irigasi pertanian.

Nur Azizah (27), warga Desa Raguklampitan menuturkan bahwa kekeringan yang melanda di desanya sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir. Sumur-sumur warga sudah tidak lagi mengeluarkan sumber air.

“Sumur sudah tidak ada airnya, ya sekitar dua bulan ini. Jadi warga sulit dapat air bersih,” katanya, Minggu (14/7/2019)

Tiap hari, dia harus membeli air untuk keperluan memasak dan lainnya. Satu jerigen berisi 30 liter seharga Rp 10 ribu. Dalam sehari, membutuhkan minim dua jerigen air.

Warga juga menyediakan tandon-tandon air di jalan untuk menampung bantuan air yang datang. “Ya, beli pakai jerigen dengan harga Rp 10 ribu per jerigennya. Ada yang keliling jualan air di sini,” paparnya.

Sedangkan untuk mandi, dia dan warga lainnya harus ke sungai atau saluran irigasi di dekat area persawahan. Dia mengayuh sepeda berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

“Kalau mau mandi di sungai atau di saluran irigasi. Airnya warnanya cokelat. Tiap pagi dan sore pasti ramai di situ. Tapi untuk orang dewasa, kalau yang masih bayi pakai air beli,” imbuhnya.

Kepala Desa Raguklampitan, Maskan menyampaikan bahwa bencana kekeringan memang terjadi tiap tahun saat memasuki musim kemarau.

“Sudah langganan kalau kekeringan. Untuk itu sudah ada upaya penanggulangan dengan membangun sumur-sumur di beberapa titik. Anggarannya dari DAK, ada juga dari DD,” jelasnya.

Namun, sumur itu masih belum maksimal menanggulangi kekeringan, terutama di RT 24, 25 dan 26 RW 5. Saat musim kemarau warga terpaksa mandi di saluran irigasi dan sungai. “Ke depan nanti kami akan terhs berupaya menanggulangi kekeringan di sini,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto mengutarakan ada tiga desa yang mengalami kesulitan air bersih. Yakni Raguklampitan Kecamatan Batealit, Blimbingrejo Kecamatan Nalumsari dan Plajan Kecamatan Pakisaji.

“Ketiga desa tersebut sudah laporan dan kami lakukan drooping air,” ujarnya.

Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus mendatang. Namun, ia memastikan ketersediaan drooping air masih cukup.

“Agustus diperkirakan puncaknya. Tapi prinsipnya Jepara siap mengatasi kekeringan tahun ini,” pungkasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.