Kemarau Panjang, Petani di Tegal Beralih Tanam Palawija

Satu hektare lahan bayam bisa menghasilkan keuntungan sekitar Rp 4 juta.

SLAWI – Sulitnya mendapatkan air menjadikan para petani di Tegal, Jawa Tengah terpaksa menyedot air dari sumur bor menggunakan mesin pompa, Rabu (17/10/2018) siang. Hal ini dilakukan karena sejak dua bulan terakhir saluran irigasi tidak lagi menyuplai air, akibat musim kemarau panjang.

Sahali sedang mengoperasikan mesin diesel untuk mengairi lahan pertanian palawijanya saat musim kemarau melanda Kabupaten Tegal. Foto: metrojateng.com/adithya

Untuk menyiasati musim kemarau, petani pun beralih menanam jenis tanaman non padi, seperti palawija dan bayam. Seperti yang dilakukan Sahali, petani di Desa Kepandean Tegal. Dia memilih menanam bayam, karena bayam merupakan tanaman yang tidak banyak membutuhkan air.

Sama seperti petani lainnya, Sahali juga harus menyedot air dari sumur bor menggunakan diesel. Sedikitnya, sehari sekali Sahali harus menyalakan diesel untuk mengairi tanaman bayamnya. Penggunaan mesin pompa otomatis menambah pengeluaran biaya, karena Sahali harus membeli bahan bakar.

“Musim kemarau seperti ini cocok ditanami bayam, karena lebih mudah. Kalau menanam padi dalam satu hari bisa menggunakan 10 liter untuk mengairi. Sedangkan bayam, cukup tiga atau empat liter saja,” kata Sahali.

Ditambahkan Sahali, kali ini dirinya sedikit tertolong oleh harga panenan bayam yang sedang mengalami kenaikan. Dimana untuk satu hektar lahan bayam dia meraup keuntungan sekitar Rp 4 juta. Sahali dan para petani lainnya berharap musim hujan segera tiba, sehingga mereka tidak perlu lagi setiap hari menggunakan mesin pompa air.

“Di daerah Kabupaten Tegal bagian selatan sudah mulai turun hujan. Semoga ini pertanda dalam waktu dekat akan memasuki musim penghujan,” bebernya. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.