Kelayakan Infrastruktur Dorong Penjualan Rumah Komersial

Realisasi pameran perumahan dari tahun ke tahun sebagaimana rumah yang paling diminati adalah rumah menengah ke atas.

SEMARANG – Kelayakan infrastruktur kota mendorong penjualan rumah komersial di wilayah Semarang dan sekitarnya. Bahkan, sejumlah pengembang rumah subsidi sudah mulai beralih untuk membangun rumah tipe tersebut.

Pameran perumahan Property Expo Semarang (PES) 5 di Mal Ciputra, 1-12 Agustus 2019. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, MR Prijanto mengatakan, pertumbuhan kota yang pesat dan didukung dengan infrastruktur yang layak berdampak ke bisnis properti. Khususnya, mendorong penjualan rumah menengah.

“Hal itu dapat dilihat dari realisasi pameran perumahan dari tahun ke tahun sebagaimana rumah yang paling diminati adalah rumah menengah ke atas,” ungkapnya di sela penutupan pameran Property Expo Semarang 5 di Gama Resto, Selasa (13/8/2019).

Kendati demikian, lanjut dia, kondisi tersebut bukan berarti rumah subsidi atau FLPP tidak punya peminat. Sebab, pembangunan rumah subsidi saat ini terkendala lahan yang tidak tersedia.

“Sehingga, para pengembang rumah subsidi pun beralih membangun rumah komersial,” tuturnya.

Salah satu yang mendorong pertumbuhan rumah komersial adalah kelayakan infrastruktur seperti tersedianya akses jalan tol yang menghubungkan antar kota dan provinsi.

“Bahkan, wilayah Demak pun ke depan akan berkembang pesat dengan adanya sabuk pantai multifungsi untuk mengantisipasi rob dan banjir,” kata Prijanto.

Sementara, dari hasil pameran PES 5 di Mal Ciputra Semarang yang berlangsung 1-12 Agustus membukukan penjualan 23 unit rumah. Realisasi itu meningkat dibandingkan pameran sebelumnya yang hanya membukukan penjualan 19 unit.

Ketua Panitia PES 5, Dibya K Hidayat menyampaikan, capaian penjualan rumah selama pameran tersebut cukup positif. Adapun rumah yang terjual didominasi rumah dengan kisaran harga Rp 1 miliar.

“Kita masih menunggu lagi laporan dari dua pengembang, pameran ke lima sangat menggembirakan terjual 23 unit rumah dengan nilai mencapai Rp 30 miliar,” katanya.

Capaian tersebut menunjukkan pergeseran segmen pembelian rumah. Padahal menurutnya rumah menengah kebawah seharusnya juga tumbuh karena rumah tersebut merupakan kebutuhan. Berbeda dengan rumah menengah atas yang dibeli sebagai kepemilikan ke dua.

“Kita akan lihat lagi apa yang terjadi. Ke depan semoga penjualan rumah berbagai tipe di Semarang bisa terus tumbuh positif,” katanya. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.