Kekeringan, Warga Dermasuci Konsumsi Air Sungai

Sedikitnya ada 400 kepala keluarga yang terdampak kekeringan selama musim kemarau.

SLAWI – Ratusan kepala keluarga di Desa Dermasuci, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal terpaksa mengais air dari dasar sungai yang mengering, untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini sudah dialami warga selama empat bulan, akibat musim kemarau. Ironisnya, tak pernah ada bantuan air bersih, baik dari pemerintah maupun pihak lain.

Sejumlah warga Desa Dermasuci, Kabupaten Tegal nampak mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, akibat dampak musim kemarau. Foto: metrojateng.com/adithya

Kepala Desa Dermasuci, Mulyanto menyebutkan, sedikitnya ada 400 kepala keluarga yang terdampak kekeringan selama musim kemarau. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warganya terpaksa harus menuju sungai untuk mendapatkan sumber air.

Seperti yang terlihat pada Kamis (11/10/2018) sore, sejumlah warga nampak berduyun-duyun menuju sungai. Dengan membawa ember dan jerigen, mereka secara bersama-sama mandi dan mengais air sungai untuk dikonsumsi.

“Empat bulan terakhir ini warga kami terpaksa mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Jauh sebelum kekeringan semakin parah, kami sudah mengusulkan bantuan kepada pemerintah. Tetapi sampai detik ini belum juga ada respons,” keluh Mulyanto.

Hal senada disampaikan Roilah (56) warga RT 04/ RW 01, dimana selama terdampak kemarau, belum ada satu pun bantuan yang datang untuk memberikan air bersih. Untuk mengantisipasi, dirinya bersama warga lain terpaksa membuat sumur yang menyerupai mata air di sungai.

Meski kondisi air sungai jauh dari bersih, namun cara tersebut dianggap cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di antaranya untuk mandi, mencuci hingga memasak maupun minum.

Warga memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Foto: metrojateng.com/adithya

“Mau tidak mau kita buat sumur di tepi sungai. Daripada harus beli air di kota yang jaraknya cukup jauh. Alhamdulillah tidak menyebabkan gatal-gatal atau sakit perut. Hanya saja, rasanya sedikit asin dari air sumur,” terangnya.

Sementara itu, warga lainnya Satori (37) menyebutkan, hampir sebagian besar sumur-sumur warga sudah lama mengering. Kendati masih bisa diambil, tetapi jumlahnya tidak banyak dan sangat kurang untuk dikonsumsi.

“Ada sumur, tetapi kadang-kadang ada airnya. Kalaupun bisa diambil, paling hanya satu ember saja,” katanya.

Harapannya pemerintah setempat dapat segera memberikan bantuan dan juga solusi untuk warga. Pasalnya, kejadian seperti ini kerap dirasakan warga setiap musim kemarau tiba. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.