Kecewa Ganti Rugi Tol, Warga ‘Duduki’ Kantor DPRD Kendal

KENDAL – Ratusan warga korban penggusuran Tol Batang–Semarang menggelar unjuk rasa di depan gedung DPRD Kabupaten Kendal, Jumat (27/4). Mereka memilih bermalam di gedung wakil rakyat dan menuntut pemerintah meninjau ulang ganti rugi lahan.

Warga terdampak Tol Batang-Semarang menggelar unjuk rasa di halaman DPRD Kendal. Foto: metrojateng.com/edi prayitno

Ratusan korban gusuran ini berasal dari delapan desa yang terdampak proyek tol Semarang-Batang. Yakni dari Desa Nolokerto, Desa Magelung, Desa Kertomulyo, Desa Penjalin, Desa Tunggulsari, Desa Rejosari, Desa Sumbersari dan Desa Ngawensari.

Pendamping korban terdampak tol, Kartiko Nursapto mengatakan, warga sudah tidak memiliki rumah karena Pengadilan Negeri Kendal telah melakukan eksekusi beberapa hari yang lalu.

Baca Juga: Pemilik Rumah Nekat Bertahan, Eksekusi Lahan Tol Berlangsung Tegang

Bahkan hingga saat ini, mereka belum mengambil uang ganti rugi yang telah dititipkan di PN Kendal. Mereka sengaja tidak mengambil uang lantaran nilai ganti rugi yang diberikan tidak layak dan sangat tidak manusiawi.

“Seperti yang terjadi sejak tiga tahun lalu bahwa ini tidak sekadar masalah harga, harga itu kan hasil akhir. Ya tapi terkait ukuran, sosialisasi, pendataan-pendataan itu kan sudah sejak awal juga kami kritisi tapi tidak pernah ada upaya pembenaran,” katanya.

Menurutnya, penghitungan nilai ganti rugi per meter antara warga satu dengan warga yang lain sangat berbeda. “Sehingga mereka meminta untuk dilakukannya pengukuran dan pengitungan ulang ganti rugi,” terang Kartiko.

Salah satu warga terdampak proyek jalan tol, Suwarti (46) warga Rejosari RT 2 RW 3 Kecamatan Ngampel mengatakan, ukuran luasan bidang yang dimiliki yakni 56 m2. Namun yang ditulis hanya 8 m2 saja. Bahkan saat akan menerima uang ganti rugi hanya tertulis 3.20 m2.

“Kami minta keadilan, ukuran yang tidak sesuai agar segera diperbaiki sesuai dengan ukuran yang sebenarnya. Kami tetap akan melakukan tidur di halaman gedung DPRD Kendal ini sampai ada perhatian dari pemerintah,” ujarnya.

Senada dikatakan Abdul Hadi (61) warga RT 03 RW 03 Desa Kertomulyo Kecamatan Brangsong yang rumahnya telah di eksekusi akibat terkena dampak proyel jalan tol Semarang-Batang. Luasan bidang tanah yang dimiliki 3.734 m2. Tapi yang dituliskan hanya 3.387 m2.

“Kami memang tidak menolak adanya program pembangunan jalan tol ini. Tapi, mohon kepada pemerintah agar ukuran dilakukan perbaikan data, harga yang diberikan juga harga dengan harga saat ini,” pungkasnya.

Rencananya, aksi menginap dan tidur di halaman gedung DPRD Kendal akan berlangsung hingga Senin (30/4) mendatang. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

52 − = 51

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.