Kebahagiaan Imlek, Gemerlap Lampion dan Pesta Angpao yang Paling Ditunggu

Tradisi warga Tionghoa paling ditunggu adalah moment bagi-bagi angpao.

Budayawan Tionghoa di Pecinan Semarang, Liong Hwa Hing, saat berpose di depan pintu rumahnya yang berhias kertas merah berisi pantun dan ragam doa-doa. (Foto Fariz Fardianto/metrojateng.com)

SEMARANG – Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 telah tiba. Tepat hari Selasa (5/2/2019), masyarakat peranakan Tionghoa bersuka cita merayakan datangnya Tahun Baru Imlek di seluruh penjuru daerah.

Di Semarang, nuansa Imlek sudah terasa sejak sepekan lalu. Diawali dengan ragam atraksi budaya khas Tionghoa dalam ajang Pasar Imlek Semawis, warga Tionghoa tumplek blek mencari peruntungan rezeki dengan berjualan aneka makanan dan pernak-pernik Imlek.

Menurut seorang budayawan Tionghoa di Pecinan Semarang, Liong Hwa Hing, perayaan Imlek dari tahun ke tahun kini semakin meriah. Pasalnya, warga Tionghoa tidak lagi diliputi perasaan takut pasca rezim Orde Baru tumbang pada 1998 silam.

“Kami kalau mau Imlekan tidak lagi khawatir akan dicekal maupun dilarang. Karena sejak Pak Harto (Presiden Indonesia kedua) lengser, hak warga Tionghoa merayakan Imlek sudah terbuka lebar. Tahun ini misalnya, Imleknya agak ramai. Perayaannya semakin meriah. Sekarang yang datang ke Semawis tidak hanya dari lokal Semarang, tetapi pengunjung luar kota juga banyak,” kata pria yang punya nama lain Hermawan tersebut saat berbincang dengan metrojateng.com di rumahnya, Kampung Sebandaran I Gang II Nomor 4, Gabahan, Selasa (5/2/2019).

Hwa mengatakan banyak tradisi yang masih dipertahankan warga saat Imlekan. Hwa menyebut warga peranakan masih suka memasang simbol-simbol warna merah di rumah masing-masing.

Mulai memasang lampion di langit rumahnya, boneka, hingga menempelkan kertas pantun berisi doa doa yang bermakna agar rakyat diberi kemakmuran, negara tetap aman dan hasil perdagangan laris.

Tradisi tersebut berlangsung selama 15 hari sampai puncak Imlek tiba. Warga, katanya juga merayakan Imlek mulai hari H sampai tanggal 12 Februari tiba.

Tepat saat bulan purnama muncul tanggal 12 Februari nanti, warga yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya akan berduyun-duyun mendatangi klenteng untuk menggelar sembahyang kepada Tuhan-Allah. Hwa bilang bahwa ini adalah momentum sangat sakral sehingga ibadah sembahyang untuk Tuhan-Allah akan digelar tepat pukul 00.00 WIB dini hari.

Bagi yang suka akan keindahan ruangan rumahnya, warga ada pula yang memasang setangkai bunga Mei Hua. Pohon Mei Hua dipercaya membawa kemakmuran sepanjang masa karena pohon tersebut dikenal selalu berbunga di segala musim.

“Seperti rumah saya juga dipasangi pohon Mei Hua. Itu kesukaan masing-masing orang, tidak diwajibkan,” tuturnya.

Tak ketinggalan saat Imlek ialah memasang kertas merah berisi pantun serta yang paling ditunggu banyak orang yaitu bagi-bagi angpau.

Hwa mengungkapkan angpau diberikan orangtua kepada anak, maupun anak kepada orangtuanya. Anak laki-laki maupun perempuan yang masih lajang pun tak ketinggalan mendapatkan angpau.

Bagi-bagi angpau akan dilakukan serentak pagi ini. Baik di rumah-rumah maupun di klenteng.

“Isi angpau kemampuan ekonomi masing-masing. Beberapa klenteng seperti Tay Kak Sie juga ngasih angpau. Angpau perlambang kelimpahan rezeki dan berbagi kepada sesama umat manusia,” cetusnya.

Layaknya Idul Fitri yang dirayakan dengan semarak oleh umat Muslim, warga Tionghoa juga rutin menyajikan ragam makanan bercitarasa manis sebagai hidangan wajib saat Imlek.

Semua buah yang berada manis boleh disajikan bagi para tamu. Dari manisan sampai kue keranjang merupakan makanan khas Imlek. Warga percaya makanan serba manis melambangkan kebahagiaan. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.