Kasus Kanker Serviks Meningkat, Ini yang Harus Diperhatikan Wanita

SEMARANG – Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang mematikan dengan angka kejadian yang tinggi. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus terjadi di Indonesia, 40 perempuan setiap hari terdiagnosis kanker serviks dan 20 perempuan meninggal karena penyakit tersebut.

Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Kariadi Semarang, Dr dokter T Mirza Iskandar SpOG (K) Onk menjadi pembicara pada seminar nasional kesehatan wanita dengan tema Keep Strong, Stay Helathy Kanker Serviks dan Kanker Ovarium yang diselenggarakan Laboratorium Klinik Prodia di Hotel Pesonna Semarang, Sabtu (28/4). Foto: anggun puspita

Menurut dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Kariadi Semarang, Dr dokter T Mirza Iskandar SpOG (K) Onk, di Semarang ditemukan 300 sampai 400 kasus baru kanker serviks setiap bulannya. Kondisi itu membuat satu jam perempuan meninggal karena kanker serviks di Indonesia.

“Sejak 2008, kesadaran perempuan melakukan deteksi kanker serviks hanya 5% di Jawa Tengah, tetapi sekarang pada posisi 11%. Kondisi itu masih rendah karena target kami paling tidak bisa 25%,” ungkapnya pada seminar nasional kesehatan wanita dengan tema Keep Strong, Stay Helathy Kanker Serviks dan Kanker Ovarium yang diselenggarakan Laboratorium Klinik Prodia di Hotel Pesonna Semarang, Sabtu (28/4).

Kesadaran mendeteksi dini terhadap kanker serviks memang menjadi satu hal penting dan harus dilakukan oleh para perempuan.

“Deteksi dini kanker serviks sangat penting untuk tindakan preventif. Karena masih banyak perempuan yang mengabaikan. Jika dulu kanker serviks menyerang di usia 45 tahun keatas sekarang umur 35 tahun sudah terserang,” katanya.

Maka itu yang perlu diperhatikan untuk mengantisipasi penyakit kanker serviks di antaranya menjaga organ reproduksi. “Seorang perempuan ingin vagina bersih itu wajar tapi kadang melakukan tindakan salah seperti menggunakan obat pencuci vagina. Faktor kebersihan yang tidak pada tempatnya itu justru bisa jadi pemicu masuknya virus. Termasuk penggunaan pembalut yang macam-macam seperti sekarang juga bisa menjadi pemicu masuknya virus penyebab kanker serviks,” jelasnya.

Kemudian, perilaku seksual juga dapat menjadi pemicu. Mirza menuturkan, seks bebas di luar negeri tinggi tapi kasus kanker serviks tidak banyak. Kondisi itu berbanding terbalik dengan di Indonesia dimana seks bebas tidak begitu tinggi tapi kasus penyakit tersebut justri sangat tinggi.

“Maka mulai saat ini perlu ada pemeriksaan dini atau preventif kepada para perempuan. Semakin dini mendeteksi kanker servik semakin besar peluang untuk terhindar dari penyakit tersebut,” tuturnya.

Endang Hariani, Regional Head Prodia Jawa Tengah dan DIY menambahkan, seminar ini dilakukan untuk membantu pemerintah dan menyadarkan masyarakat tentang bahaya kanker serviks. “Prodia berperan serta dalam melakukan edukasi terhadap pola hidup sehat terhadap organ reproduksi perempuan, sehingga bisa terbebas dari kanker serviks,” jelasnya.

Pemeriksaan rutin di laboratorium, lanjut Endang juga menjadi alternatif agar terhindar dari kanker serviks. Prodia pun telah menyediakan pemeriksaan sebagai langkah preventif seperti pemeriksaan pap smear dan HPV. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

1 + 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.