Karakter Bangsa Tidak Luntur, Tapi Sosialisasi Kecintaan Kepada Bangsa Harus Diperkuat

Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng ST Sukirno menyampaikan paparannya di acara
PrimeTopic Dialog Bersama Parlemen dengan tema “Memperkuat Karakter Bangsa” di Noorman Hotel Semarang.

SEMARANG – Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, Stephanus Sukirno menyampaikan pendidikan karakter bangsa sangat diperlukan bagi generasi muda. Apalagi di tengah derasnya arus informasi di era teknologi modern saat ini.

‘’Pembangunan karakter dan jati diri bangsa merupakan cita-cita luhur yang harus diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang terarah dan berkelanjutan,’’ ungkapnya dalam acara PrimeTopic Dialog Bersama Parlemen dengan tema “Memperkuat Karakter Bangsa” di Noorman Hotel Semarang, Rabu (14/10/2020).

Acara tersebut menghadirkan tiga nara sumber, yaitu Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah ST Sukirno, Kepala Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin, dan Guru Besar Antropologi Undip Semarang, Prof Mudjahirin Thohir.

Sukirno menilai, pemerintah minim dalam melakukan upaya sosialisasi terkait kecintaan terhadap bangsa Indonesia. Kondisi itu berakibat, derasnya arus informasi yang diserap oleh generasi muda bukan lagi jati diri dari bangsa Indonesia. Tapi justeru budaya luar yang perlahan-lahan menggerus kecintaan generasi muda pada bangsanya sendiri.

“Pemerintah harus mengoptimalkan sosialisasi terkait kecintaan kepada bangsa Indonesia, karena hingga saat ini masih sangat minim. Akibatnya kita tidak punya kebanggaan terhadap bangsa Indonesia sendiri,” ujarnya.

‘’Jadi, generasi muda kita bukannya luntur karakter kebangsaanya, tapi mereka memang belum mengenal karakter bangsanya sendiri seperti apa. Jadi sosialisasi nilai-nilai karakter bangsa, nilai-nilai pancasila harus diperkuat,’’ tegasnya.

Untuk itu, lanjut Sukirno, diperlukan langkah cepat dari pemerintah untuk segera mengambil strategis melalui pendidikan karakter bangsa.

“Apakah sekolah-sekolah saat ini sudah mengajarkan karakter bangsa dan mengajarkan untuk mencintai bangsa Indonesia? Untuk itu, pendidikan sangat diperlukan guna membangun karakter bangsa, sehingga diharapkan membawa perubahan karakter menjadi lebih baik,” paparnya.

Sementara Kepala Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin menyatakan, pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Saya pernah berdialog dengan mantan teroris. Dalam kesempatan tersebut, pada dasarnya dia memiliki karakter yang baik. Namun karena salah pergaulan masuk dalam lingkungan tertentu, akibatnya terpengaruh. Akhirnya dia mengakui dan baru sadar terjerumus masuk dalam kelompok tersebut. Inilah, faktor lingkungan ternyata sangat berpengaruh besar membentuk karakter,” ujarnya.

Guru Besar Antropologi Undip Semarang, Prof Mudjahirin Thohir menyoroti terkait sejumlah aksi vandalisme akhir-akhir ini yang dilakukan oleh kalangan muda.

Menurutnya, terjadinya aksi anarki maupun vandalisme itu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

“Dari sisi internal bagi mereka yang melakukan vandalis, dia berada dalam situasi yang dirinya sendiri tidak nyaman dan dalam situasi yang tidak bisa menjelaskan atas dirinya. Sehingga faktor luar memberi ruang (provokasi-red) yang menjustifikasi bahwa pemerintah salah. Lalu mereka bergerak dengan kemarahan,” terangnya. (duh)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.