Kampung Warna-warni Tidar Campur, Wajah Baru di Ujung Selatan Magelang

Kampung Warna-warni ini diharapkan mampu menambah jumlah tempat kunjungan wisata di Kota Sejuta Bunga.

MAGELANG – Satu lagi destinasi wisata yang ada di Kota Magelang. Diberi nama Kampung Warna-warni yang berada di RT 01 RW 01 Tidar Campur Kecamatan Magelang Selatan. Meski hanya lingkup RT, namun keunikan dari kampung ini mampu mengundang wisatawan dari luar daerah, bahkan mancanegara.

Lukisan mural menjadi salah satu daya pikat di Kampung Warna-warni Tidar Campur Magelang. 

Berada di ujung selatan Kota Magelang, kampung ini menjadi unik karena hampir seluruh rumah yang berada di lingkungan RT 01 dicat warna-warni. Sudadi Waluyo, Ketua RT 01 menolak kampungnya disebut kampung pelangi, karena nama itu sudah banyak yang menggunakan.

“Kami namakan Kampung Warna-warni sesuai dengan keberagaman warganya, seperti Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika,” kata Waluyo memberikan alasan.

Adanya Kampung Warna-warni ini, kata Waluyo, berawal dari ketidaksengajaan. Saat diadakan kerja bakti tahun 2016 silam, Waluyo memiliki sisa cat beberapa warna. Ia kemudian menggunakan sisa cat itu untuk mengecat beberapa tempat dengan menjadi warna-warni.

“Loh, kok hasilnya bagus, maka dari sana tercetus ide untuk membuat kampung ini menjadi warna-warni. Gayung bersambut, warga sangat antusias, juga kompak” terang Waluyo.

Warga dengan sukarela mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli cat. Berbagai motif digunakan agar setiap rumah memiliki keunikan tersendiri.

Tidak sekadar dicat berwarna dengan bentuk kotak, bundar ataupun limasan. Namun juga pada dinding tembok rumah ada mural, lukisan seperti water toren yang merupakan ikon Kota Magelang, burung, Sea Word dan semacamnya.

Permainan tradisional juga mudah ditemui di Kampung Warna-warni. 

Sebagai bentuk keseriusan maka ditunjuklah Ketua Kampung Warna-warni. Tugasnya adalah mencetuskan atau mengumpulkan ide dan menunjukkan tempat yang harus digarap.

“Jadi tidak sembarang dicat, namun juga diatur sedemikian rupa,” kata Waluyo didampingi Sagiyo, Ketua Kampung Warna-warni.

Di awal tahun 2017, rumah yang dicat warna-warni baru ada 17, namun sampai saat ini terus bertambah mencapai 25 rumah. Rupanya banyak warga sekitar yang mulai tertarik untuk mengecat rumahnya dengan berbagai warna.

Dari hari kehari, semakin banyak ide yang muncul. Agar suasana lebih meriah, maka di beberapa sudut dipasang aneka warna payung, dan juga gapura kecil yang dihiasi dengan bunga dari limbah plastik.

Aneka tanaman bunga yang ada menambah suasana kampung semakin indah dan asri. Lingkungan juga selalu dijaga kebersihannya. Tanaman unggulan di kampung ini adalah lidah buaya. Saat ini sedang mulai dikembangkan tanaman Anggrek.

Untuk melengkapi keberagaman fasilitas, di sini juga disediakan aneka macam permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak zaman dulu. Seperti egrang, bakiak, sandal bathok, juga dakon.

Ada pula tempat bermain sondah mandah dan gambar tiga dimensi. Anak-anak bebas menggunakan permainan tradisional ini, sehingga mereka tidak tergantung pada gadget.

Wisata Alternatif

Wisatawan yang datang juga bisa membawa oleh-oleh berbagai olahan makanan yang dibuat oleh warga setempat. Seperti keripik tahu, dawet lidah buaya maupun kerajinan dari limbah plastik.

Keberadaan Kampung Warna-warni memberi tambahan penghasilan buat warga setempat melalui aneka oleh-oleh

Hal ini mampu menambah penghasilan warga, terutama ibu rumah tangga yang semula hanya di rumah. Kini mereka bisa melakukan aneka usaha.

Sampai saat ini, warga belum memungut biaya masuk. Wisatawan yang datang bebas datang untuk berswafoto atau selfie.

Menurut Waluyo, tingkat kunjungan wisata di Tidar Campur, tiap tahun selalu mengalami kenaikan. “Banyak rombongan pelajar maupun PKK dari luar kota yang melakukan studi banding di sini,” terangnya.

Untuk turis asing, biasanya mereka datang setelah mengunjungi Candi Borobudur. “Mereka sengaja ingin datang ke sini untuk melihat Kampung Warna-warni,” imbuh waluyo.

Sebagian besar para wisatawan menyambut baik usaha dari warga untuk membuat kampung ini sebagai destinasi wisata. Setiap bulan, Kampung Warna-warni dikunjungi sekitar 100 orang.

Sagiyo menambahkan, dirinya tidak bisa menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat Kampung Warna-warni ini. Karena begitu ada ide membuat apa, maka warga secara suka rela iuran.

“Meski ini kota namun berada di pinggiran yang masih kental dengan sifat kegotong royongannya,” katanya.

Ia mengatakan, keberadaan Kampung Warna-warni ini diharapkan mampu menambah jumlah tempat kunjungan wisata di Kota Sejuta Bunga. Dan itu merupakan salah satu wujud kecintaan warga Kampung Warna-warni terhadap Kota Magelang. (ADV)

Foto-foto: Dokumentasi Humas Pemkot Magelang

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.