Kampung Palawija, Energi Baru yang Menghidupi Desa Karangrejo

Balkondes Karangrejo yang dibangun oleh PGN itu berdiri di lahan seluas 4.000 meter persegi yang semula adalah tanah bengkok kelurahan.

Program Kementerian BUMN melalui pembangunan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) menjadi energi baru bagi desa-desa di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur Kabupaten Magelang. Tidak sekadar sebagai fasilitas pendukung pariwisata, perekonomian pun menggeliat disana. Seperti di Agro Wisata Kampung Palawija atau Balkondes Karangrejo yang dikelola Perusahaan Gas Negara (PGN). Semenjak ada fasilitas tersebut desa yang berada di lereng Bukit Menoreh itu semakin hidup dan para warganya semakin berdaya, bisa berkarya, serta makin sejahtera. Bagaimana kisahnya? Simak tulisan berikut.

KEHIDUPAN di Agro Wisata Kampung Palawija, Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo Kabupaten Magelang sudah dimulai pukul 03.30 WIB. Muhdi (60), pengelola homestay Kampung Palawija dengan memukul kenthongan berjalan melewati kamar demi kamar membangunkan tamu yang menginap di sana. Cara itu menggantikan morning call melalui pesawat telepon yang umumnya dilakukan setiap penginapan.

Wisatawan menikmati keindahan alam dari Punthuk Setumbu yang tak jauh dari Agro Wisata Kampung Palawija Balkondes Karangrejo. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

‘’Ya, memang begini cara membangunkan tamu di sini (Homestay Kampung Palawija), pakai cara tradisional. Ini sudah rutinitas saya setiap ada tamu yang menginap. Setelah itu saya mengantar dan memandu mereka ke Punthuk Setumbu untuk melihat sunrise,’’ tuturnya yang juga bekerja sebagai pemandu wisata.

Mengenakan kaos biru dongker bercelana panjang, penampilan Muhdi tampak serasi dengan topi berwarna biru muda bertulis Perusahaan Gas Negara (PGN). Pagi itu yang diantar adalah rombongan tamu dari Semarang. Dia menemani dari pintu masuk objek wisata, berjalan mendaki bukit sejauh 300 meter hingga mencapai puncak Punthuk Setumbu. Selama memandu perjalanan menuju puncak, dan sembari menunggu mentari terbit dari ufuk Timur, dia bercerita tentang asal mula objek wisata di Desa Karangrejo itu. Mulai kapan ditemukannya, lalu apa keistimewaan bukit tersebut, hingga bisa terkenal seperti sekarang karena jadi tempat kencan Cinta dan Rangga dalam film ‘’Ada Apa Dengan Cinta 2’’.

‘’Punthuk Setumbu ini ditemukan pada tahun 2004, sekarang tempat ini jadi salah satu daya tarik sekaligus potensi wisata di Kabupaten Magelang, khususnya Desa Karangrejo. Kini setelah dikembangkan oleh masyarakat di sini, objek wisata ini semakin populer bagi wisatawan domestik, mancanegara dan fotografer. Dari puncak bukit, wisatawan dapat menyaksikan matahari terbit dengan panorama kabut dan awan sebagaimana pusatnya adalah Candi Borobudur, Gunung Merapi, serta Gunung Merbabu,’’ jelas warga Bumen 8 RT 01 RW 01 Desa Karangrejo itu.

Kemampuan memandu tamu itu didapatkan semenjak dia bekerja di Balkondes Karangrejo dua tahun lalu dan mendapat pembekalan serta pelatihan tentang Sapta Pesona Pariwisata yang diselenggarakan Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata, ataupun PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur sebagai pendamping sekaligus pengembang pariwisata di sana.

‘’Dulu saya ini hanya petani yang menyambi jadi tukang dekorasi kalau ada orang nikah. Namun, sejak dibangunnya Kampung Palawija atau Balkondes Karangrejo oleh PGN, saya jadi tambah pinter. Bisa jadi pemandu wisata, jadi juru kunci homestay, bahkan jadi pelukis mosaik dari kain perca dan lukisannya jadi produk unggulan yang dijual di Balkondes,’’ kata ayah dua anak itu.

Salah satu warga Desa Karangrejo, Muhdi membuat kerajinan tangan lukisan mosaik dari kain perca yang merupakan produk unggulan di Agro Wisata Kampung Palawija Balkondes Karangrejo. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Ilmu membuat kerajinan atau lukisan dari kain perca itu diperoleh saat Muhdi menjadi tukang dekorasi. Kemudian, dia berinovasi agar keterampilan itu menghasilkan karya yang bernilai jual dan menjadi salah satu produk unggulan di Kampung Palawija. Sekarang lukisan mosaik kain perca yang dia buat dijual seharga Rp 150.000 hingga Rp 1.000.000. Pembelinya tamu-tamu Balkondes Karangrejo, baik dari dalam negeri hingga Malaysia dan Australia. Tidak puas hanya menjual karya, Muhdi juga menularkan ilmunya membuat kerajinan tangan itu kepada wisatawan yang datang ke Kampung Palawija dengan paket pelatihan Rp 20.000/orang selama dua jam.

‘’Dulu penghasilan hanya dari bertani dan kadang-kadang ndekor, sekarang ada tambahan rezeki gaji dari Balkondes Rp 600 ribu – Rp 700 ribu/bulan dan jual lukisan,’’ imbuhnya.

Peran Balkondes

Tidak hanya Muhdi yang bisa berdaya dan sejahtera, Kampung Palawija juga menghidupi warga lainnya seperti Uun Yuniati (33) dan Siti Purwati (29) yang bekerja sebagai juru masak di sana.

Uun, warga Bumen Karangrejo RT 03 RW 06 itu tidak menyangka bisa kembali dan bekerja di kampung halamannya setelah sebelumnya merantau di Jakarta.

‘’Setelah mengalami kecelakaan saat bekerja di Jakarta saya pulang kembali ke rumah, dan terpaksa selama sakit saya jadi pengangguran. Namun, tidak lama PGN membangun Balkondes disini dan saya ditawari bekerja jadi juru masak,’’ tutur perempuan lulusan SMA itu.

Dia ditawari bekerja sebagai juru masak di Balkondes, profesi yang tidak jauh dari pekerjaan sebelumnya ketika bekerja di sebuah rumah makan di Jakarta. Sejak menjadi karyawan di Kampung Palawija awal 2017, dia tidak hanya bekerja tapi juga belajar bagaimana menjamu tamu. Menyiapkan dan menghidangkan masakan khas daerah setempat seperti Buntil, Oseng Daun Pepaya, Pepes Tahu, Sayur Lodeh, Nasi Goreng, hingga Mie Nyemek.

‘’Tidak cuma menghidangkan, kami pun mengajari tamu atau wisatawan asing pada kegiatan cooking class. Mereka pengin bisa masak, dan permintaan paling banyak mereka ingin tahu bagaimana cara memasak Mie Nyemek, Nasi Goreng serta Tempe Mendoan,’’ kata Uun.

Kesempatan berharga bisa bekerja di kampung halaman juga dirasakan Siti Purwati yang sebelumnya bekerja di Bandung. Setiap hari dia bersama Uun memasak di dapur Kampung Palawija. Warga Kretek Karangrejo RT 04 RW 04 itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa berkumpul bersama keluarga dan mengasuh anaknya.

‘’Kalau tidak ada Balkondes ini mungkin saya akan kembali ke Bandung bekerja cari nafkah untuk membesarkan anak saya. Namun Alhamdulillah, Balkondes membuka lapangan kerja bagi warga disini, jadi saya tidak perlu jauh-jauh jemput rezeki dan bisa selalu dekat dengan anak,’’ katanya.

Agro Wisata Kampung Palawija Balkondes Karangrejo yang dibangun Perusahaan Gas Negara (PGN) dilengkapi fasilitas penginapan (homestay) agar wisatawan dapat menikmati potensi desa di sana. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Agro Wisata Kampung Palawija atau Balkondes Karangrejo yang dibangun oleh PGN itu berdiri di lahan seluas 4.000 meter persegi yang semula adalah tanah bengkok kelurahan. Area tersebut sekarang menjadi energi baru yang mampu memutar roda perekonomian warga Desa Karangrejo.

Kondisi itu sejalan dengan misi Kementerian BUMN ‘’Hadir untuk Negeri’’. BUMN sebagai instrumen Pemerintah dituntut terlibat aktif sebagai agen perubahan untuk mendorong percepatan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai salah satu BUMN, PGN hadir memberikan bantuan dana hibah untuk membangun Balkondes di Desa Karangrejo.

Sales Area Head PGN Semarang, Heri Frastiono mengatakan, pihaknya berupaya menjalankan program Kementerian BUMN untuk mendorong peningkatan ekonomi suatu daerah melalui pembangunan Balkondes.

‘’Kenapa pembangunan Balkondes diarahkan di kawasan Candi Borobudur? Ya, karena lokasi tersebut merupakan destinasi wisata dan bangunan bersejarah yang diakui UNESCO sebagai keajaiban dunia. Otomatis akan banyak pengunjung atau wisatawan yang singgah,’’ ungkapnya.

Untuk itu Balkondes didirikan, tidak hanya memfasilitasi pengunjung menginap tapi juga menggenjot kunjungan wisatawan ke Indonesia sebagaimana yang diprogramkan Pemerintah.

‘’Melalui Balkondes masyarakat disiapkan untuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke daerahnya. Seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, diharapkan juga dapat memberi dampak positif pada perbaikan perekonomian mereka,’’ katanya.

Heri juga menyampaikan, masyarakat khususnya di Desa Karangrejo terus berperan aktif memberdayakan dan mengelola potensi yang ada. Bagi yang punya bakat dan kemampuan diharapkan dapat bersumbangsih agar desa semakin berkembang.

‘’Sejauh ini agar Balkondes bisa terus beroperasi, PGN selalu melakukan monitor supaya apa yang kami bina bisa berjalan dengan baik dan dapat berkembang. Adapun, setelah homestay sudah berdiri dan bisa dimanfaatkan, kini fokus kami adalah melengkapi dengan akses jalan utama agar pengunjung tidak kesulitan menuju ke sini,’’ jelasnya.

Sementara itu, fasilitas yang sudah ada di Agro Wisata Kampung Palawija Balkondes Karangrejo di antaranya penginapan (homestay) dengan 20 kamar, pendapa untuk berbagai kegiatan masyarakat atau tamu, hingga kebun organik. Semuanya dikelola warga mulai menjamu tamu dengan kuliner, kerajinan tangan, hingga kesenian yang khas disana. Bahkan warga bisa menjadi pemandu wisata jika tamu ingin mengeksplorasi keunggulan alam Desa Karangrejo seperti, Punthuk Setumbu, Punthuk Cemuris, Bukit Barede, dan Sendang Widodaren.

‘’Berapa pun hasilnya dari Balkondes ini semua dikelola oleh warga Desa Karangrejo. Jadi PGN tidak menerima kembali dana yang sudah diberikan untuk Balkondes. Sehingga semua untuk warga, dari warga, dan kembali ke warga,’’ tandas Heri. (Anggun Puspita)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.