‘Kaloka Pottery’ Pilih Pengiriman Cepat dan Aman

*Order Meningkat Pesat di Tengah Pandemi

– KALOKA POTTERY- Francisca Puspitasari (44), Founder dan Owner produk keramik Kaloka Pottery, menunjukkan produknya. Foto : ist/metrojateng.com

 

PANDEMI Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) beberapa bulan terakhir memberi dampak yang signifkan bagi perputaan ekonomi khususnya sektor UMKM. Salah satunya pelaku usaha yang merasakan dampak dari pandemi ini adalah Francisca Puspitasari (44).

Founder dan owner produk keramik Kaloka Pottery ini telah menutup store dan studionya sejak awal Maret lalu.

“Alasannya demi kebaikan bersama,” jawabnya singkat.

Kika, sapaannya, menuturkan studio Kaloka Pottery yang berada di Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Jogja ini terbuka untuk umum. Dalam sehari bisa ratusan orang yang berkunjung melihat langsung proses produksi.

“Semenjak ada Covid-19 online semua. Wes saya tutup offline store,” katanya.

Dari pengalaman itu, ibu dari Cinde Gaharu dan Soca Ling Respati itu harus belajar menerapkan real online untuk bangkit dan mempertahankan bisnis yang dirintisnya sejak 2016 itu.

“Ya diakui awal-awal rasanya syok, panik, gagap harus apa. Biasanya ketemu dengan orang terus ndak pernah sama sekali,” ujarnya.

Dengan ketekunanya, usahanya mulai stabil. Bahkan pada masa pandemi ini Kaloka Pottery tidak merumahkan satu orang karyawan pun, malah menambah. Order juga bertambah seiring pesanan via medsos.

“Ada hikmah dari keadaan ini, saya merasakan pasar baru, dari yang tadinya hanya mengandalkan hotel, resto maupun coffeshop saja,” jelasnya.

Di sisi lain dia juga harus jeli dan tidak sembarangan memilih jasa pengiriman barang ke konsumen. Terlebih order sekarang kebanyakan via online dan harus dikirim secepatnya. Dia mempercayakan jasa pengiriman barang antardaerah menggunakan jasa JNE Express.

Setiap harinya, Kika mengirim setidaknya 50 paket yang harus dikirim ke beberapa daerah. Dia menilai JNE mudah, cepat,  dan sangat komunikatif dalam segala hal.

“Komunikatif artinya komunikasi kami ke agen transparan, kustomer juga bisa cek langsung barangnya ke JNE sampai mana. Biayanya pun murah. Selama ini Kika mengakui tidak ada kasus kiriman tertunda. Semuanya terkirim dengan baik sesuai alamat dan waktu yang ditentukan,” tuturnya.

Karena traffic pengiriman tinggi, di tengah pandemi ini risiko keramik yang pecah lebih besar. Untuk mengurangi goncangan, Kaloka Potteri menggunakan plastik bubble wrap untuk pengemasan keramik. Selain itu, sebagai user Kika merasa JNE memiliki track record yang jelas.

“Misal mau cek satu bulan lalu untuk evaluasi perusaaan ada di sana. JNE bagus, saya sangat merekomendasikan jasa pengiriman dan logistik barang anda disini,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Cabang Utama JNE Yogyakarta Adi Subagyo menyatakan JNE juga memberikan ruang dan kesempatan untuk “scale up” bagi bagi para pelaku UMKM yang ada di DIY. Melalui beberapa forum dan pelatihan untuk meningkatkan penjualan. Misalnya, mengoptimalkan media sosial sebagai media untuk promosi produk, seperti Instagram, Facebook, dan sebagainya.

“Kami full support dan berikan fullfilment untuk para UMKM. Yakni memberikan ruang dan kesempatan untuk scale up dari segi skill mau pun bisnis. Apabila UMKM baru membutuhkan masukan dari para pemilik UMKM lain yang sudah sukses atau berhasil, kami akan buatkan forum untuk mereka,” jelas Kepala Cabang Utama JNE DIY, Adi Subagyo, Rabu (9/6/2020).

Pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa marketplace ternama seperti Tokopedia, Shopee, Buka lapak, dan sebagainnya untuk untuk mempromosikan produk UMKM.

“Saat ini kami lebih mengoptimalkan Facebook, karena Facebook menurut saya yang paling banyak diminati masyarakat selain Instagram,” tambahnya.

Sesuai komitmen, dia juga akan memberikan refund 100 persen bagi pengguna jasa kirim premium seperti YES (Yakin Esok Sampai) jika ada kesalahan dari pihak JNE. Untuk pengiriman reguler, JNE akan mengusahakan kiriman cepat sampai, tepat pada waktunya.

“Kami sudah mempertimbangkan secara matang dan selalu dimonitor oleh supporting agar keterlambatan bisa ditekan seminimal mungkin. Karena kecepatan menjadi prioritas kami, selain keamanan,” tegas Adi.

Selama 30 tahun JNE berdiri dan berjalan, Adi mengungkapkan 99 persen kiriman yang rusak disebabkan oleh packaging yang kurang standar. “Sehingga packaging harus diperhatikan dan sangat penting,” imbuh dia.

JNE telah melakukan uji coba segala bentuk packaging yang ada dan ditawarkan. Standar yang ditentukan harus aman, tahan banting dan aman dari tekanan. Karena dia menyadari jika pengiriman barang masih menggunakan pihak ketiga. Sehingga, packing di awal itu harus diperhatikan.

Adi menambahkan, JNE menyediakan layanan custom box bagi customer. Para pengguna jasa layanan JNE dapat memilih atau memesan sendiri packaging sesuai dengan kebutuhan. Untuk harganya, 50 persen dari biaya produksi ditanggung atau disubsidi oleh pihak JNE.

Barang-barang elektronik sebaiknya menggunakan packaging kayu. Kalau barangnya rentan dan kecil bisa memilih menggunakan bubble wrap. “Kami juga menempelkan stiker fragile, yaitu peringatan agar barang diperlakukan dengan baik, tidak dibanting, dan sebagainya,” katanya.

Adi selalu mengingatkan kepada masyarakat dengan memberikan edukasi tentang packaging. Yakni masyarakat harus ada kesadaran untuk memastikan sendiri barangnya dan harus menggunakan packaging seperti apa.

“Misalnya ingin mengirim dokumen seperti SIM, KTP, STNK, dan lain-lain lebih baik menggunakan amplop yang besar. Karena kan dokumen itu kecil takutnya keselip dengan yang lain. Misalnya, ingin mengirim makanan itu harus diperhatikan batas kadaluarsanya. Jadi, bisa memilih jasa antar antar yang paling cepat, dan lain-lain,” tutupnya.(ris)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.