Jamu Ilegal Masih Beredar, Kenali Ciri-cirinya

Peredaran jamu ilegal di Jateng masih terbilang cukup tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan sebuah sinergitas dari berbagai unsur.

TEGAL – Sedikitnya delapan kasus jamu illegal berhasil diungkap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang pada 2018 lalu. Pada tahun ini, BPOM terus bergerak cepat untuk mengungkap kasus serupa. Namun, masyarakat diminta untuk ikut berperan aktif memerangi peredaran jamu ilegal.

Anggota Komisi IX DPR RI, Dewi Aryani saat memberikan sosialiasi tentang memilih obat tradisional yang aman di Kabupaten Tegal. Foto : metrojateng.com/ adithya

“Tahun lalu ada delapan perkara yang kita pidanakan terkait memproduksi dan mengedarkan obat tradisional ilegal yang mengandung bahan kimia obat. Salah satunya berasal dari Tegal,” ungkap Kepala BPOM Semarang, Safriansyah usai menghadiri sosialisasi tentang memilih obat tradisional yang aman di Kabupaten Tegal, Minggu (20/1/2019).

Dikatakan Safriansyah, peredaran jamu ilegal di Jateng masih terbilang cukup tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan sebuah sinergitas dari berbagai unsur. Termasuk pula peran serta masyarakat untuk memerangi jamu ilegal. Cara mudahnya, yakni dengan tidak membeli maupun mengonsumsi produk-produk yang dilarang beredar.

“Dengan tidak membeli, maka pengusaha nakal tidak akan lagi memproduksi. Karena hukum ekonominya begitu. Tetapi jika masyarakat masih membeli, maka upaya untuk produksi dan mengedarkan akan terjadi,” pungkasnya.

Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat Kabupaten Tegal juga diberikan pemahaman tentang ciri-ciri produk jamu ilegal. Di antaranya yakni dengan melihat nomor izin edar, yang biasanya memiliki registrasi TR atau tradisional dengan angka sembilan digit. Kemudian khasiat jamu yang seketika langsung bereaksi atau cespleng.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, dr Hendadi Setiaji mengatakan, meski obat tradisional saat ini masih menjadi pilihan dibandingkan obat lainya, namun masyarakat diminta untuk tidak tergiur. Menjaga pola hidup sehat harus tetap dikedepankan.

Untuk mengecek obat dan makanan yang aman, imbuh Hendadi, saat ini masyarakat bisa langsung menggunakan aplikasi dari BPOM dengan mendownload melalui smartphone.

“Selain memilih obat dan makanan yang baik, pola hidup sehat dengan Germas harus terus dilakukan, salah satunya dengan aktivitas fisik,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi IX DPR RI, Dewi Aryani mengemukakan, pihaknya akan mendorong untuk bisa menganggarkan dana yang lebih banyak di seluruh Daerah Pemilihan (Dapil) se-Indonesia.

Dengan begitu, lanjut Dewi Aryani, diharapkan BPOM dapat bekerja lebih banyak untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai obat-obatan dan makanan yang aman dikonsumsi.

“Di Brebes, Tegal dan Slawi produktivitas UMKM di bidang jamu dan makanan sangat banyak. Sehingga sosialisasi harus digencarkan, dengan harapan masyarakat tahu obat dan makanan yang layak untuk dikonsumsi,” terang Dear sapaan akrab Dewi Aryani.

Selain sosialisasi, Dear menyebut, nantinya pengusaha dan produsen jamu tradisional akan dikumpulkan untuk diberi pembinaan dalam pengolahan jamu. (MJ-10)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.