Ini Kriteria Walikota Semarang Versi Rektor Undip

berita-pilwakot-semarang

SEMARANG – Munculnya kandidat bakal calon Wali Kota dan wakil Wali Kota Semarang dari kalangan akademisi mendapat sambutan baik dari akademisi lain. Rektor Universitas Diponegoro Prof Yos Johan Utama menyebut, balon dari kalangan akademisi itu masih berpeluang dipinang parpol.

“Sebuah fenomena yang baik dan menarik jika akademisi bisa meramaikan Pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang. Seperti munculnya Widhi Handoko, dan yang lain juga ada Djoko Setijowarno. Mereka maju di posisi Wali Kota dan Wakil Wali Kota dengan mesin partai yang berbeda,” ujar Yos Johan Utama di kantornya, Rabu (20/5).

Para balon akademis menurutnya, harus memiliki kapabilitas dan elektabilitas yang mumpuni agar bisa dikenali dan tak diragukan oleh pemilih.

Yos Johan pun mengomentari, jika balon Wakil Wali Kota Dr. Widhi Handoko SH. SpN memiliki dua faktor tersebut dan dengan dukungan sebagai notaris PPAT, Widhi memiliki kapabilitasnya pada sisi praktis. Kans untuk mendapat rekomendasi dari mesin partai pengusung serta memenangkan akan sangat terbuka dan berimbang.

“Widhi Handoko memiliki kapabilitas di bidang doktoral ilmu hukum ahli pertanahan dan tata ruang, saya sangat mengenal Widhi. Dia juga memiliki basis organisasi dengan jaringannya yang cukup luas, dia ketua alumni Kenotariatan Undip, juga seorang yang low profil, sehingga popularitasnya cukup bagus dan elektabilitasnya bisa terangkat mempunyai popularitas yang cukup tinggi,” katanya.

Ia menilai, secara umum elektabilitas dan kapabilitas Widhi akan membantu partai pengusungnya dalam koalisi  yang dimotori PDI-P. Ada juga kemungkinan merapatnya PKB untuk mendukung pencalonan Widhi Handoko, karena Widhi bisa diterima semua golongan dan partai, meski pasti akan terjadi koordinasi dan konsesi (kesepakatan).

“Bukan suatu yang absolut dan semuanya masih bisa mencair. Bergabungnya PDI-P dan PKB tidak bisa dilihat secara masif, tapi pasti ada koordinasi dan kesepakatan yang mencairkan dan itu yang akan menyelesaikan di lapangan,” terangnya.

Selain itu, ia juga menyinggung jika saat ini mendekati masa elektabilitas, balon dari akademisi harus lebih giat mengenalkan diri kepada publik. Tak hanya melalui baliho, bertemu face to face dengan masyarakat akan lebih efektif. (ade)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 5 = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.