Ini Alasan Mengapa Jokowi Bisa Menang Telak di Jateng

Prabowo-Sandi mencoba menggempur basis massa dengan cara mendirikan posko pemenangan di Jawa Tengah saat masa kampanye lalu, namun hal tersebut tidak terlalu berpengaruh.

SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah pada Pemilu 2019 masih layak menyandang julukan sebagai “Kandang Banteng”. Pasalnya, berdasarkan hitung cepat dari berbagai lembaga survei di Indonesia calon presiden Joko Widodo unggul telak dibanding rivalnya, Prabowo Subianto di angka yang cukup fantastis.

 

Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo menyapa ribuan warga Kabupaten Tegal dalam kampanye akbar di Lapangan Desa Dukuh Salam. Foto : metrojateng.com/ adithya

 

Pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Teguh Yuwono mengatakan, Jawa Tengah hampir bisa dipastikan dikuasai oleh pasangan calon presiden nomor urut 01 karena merupakan basis PDI Perjuangan terbesar. Loyalitas pemilih Jokowi di Jateng terbilang sangat solid sehingga bisa meraup suara lebih dari 70 persen.

Kendati Prabowo-Sandi mencoba menggempur basis massa dengan cara mendirikan posko pemenangan di Jawa Tengah saat masa kampanye lalu, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh karena gerakan PDI Perjuangan di Jawa Tengah dilakukan bertahun-tahun lalu.

“Terlebih lagi, Jateng dikuatkan dengan usaha partai-partai pengusung, seperti PKB, NasDem, Hanura, yang juga memiliki basis masa besar di Jateng,” ungkapnya, Sabtu (20/4/2019).

Dia berharap, polemik terkait hasil hitung cepat tidak diperpanjang. Sebab, hitung cepat hanyalah suatu metodologi terbaru di dalam ilmu politik yang berusaha memberikan gambaran awal kepada para masyarakat tentang bagaimana hasil pemilihan pada hari itu.

Dia juga menyarankan agar keluhan terkait hasil hitung cepat bisa mengikuti mekanisme yang ada, yaitu dilaporkan ke Bawaslu atau ke MK dengan bukti-bukti yang ada.

“Jangan sampai hasil quick count kemudian dijadikan sebagai alat untuk mengancam sana-sini, kemudian alat untuk memberikan efek tidak tenang terhadap masyarakat sehingga berdampak pada kepanikan sosial,” pungkas Teguh. (ade)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.