Imigrasi Jateng Tolak 171 Permohonan Paspor di 2019

Banyak calon tenaga kerja Indonesia atau TKI yang ingin bekerja di luar negri secara instan.

MAGELANG РSepanjang tahun 2019, Keimigrasian Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, menolak 171 permohonan paspor. Angka itu cenderung menurun dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 459 permohonan paspor. Mereka ditolak permohonan paspornya karena terindikasi akan bekerja di luar negeri secara non prosedural.

Sosialisasi Penyebaran Informasi Peran Imigrasi Dalam Pencegahan tenaga kerja Indonesia, yang Bekerja Secara Prosedural dan Kaitannya Dengan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Hotel Atria Magelang, Selasa (20/8/2019). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Pernyataan itu disampaikan Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, Jawa Tengah, Ramli HS, dalam acara Penyebaran Informasi Peran Imigrasi Dalam Pencegahan tenaga kerja Indonesia, yang Bekerja Secara Prosedural dan Kaitannya Dengan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Hotel Atria Magelang, Selasa (20/8/2019).

Ramli mengatakan, banyak calon tenaga kerja Indonesia atau TKI yang ingin bekerja di luar negri secara instan. Mereka enggan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan, seperti harus ada kelengkapan berkas diikuti dengan pelatihan-pelatihan.

“Banyak calon TKI yang enggan ke BP3TKI untuk mengurus bagaimana prosedur bekerja keluar negeri secara prosedural atau legal,” katanya.

Pihaknya khawatir bila calon TKI tidak memiliki bekal keterampilan dan ilmu yang cukup memadai untuk bekerja di luar negeri, maka akan merasa tidak nyaman dengan majikannya.

Dalam kegiatan tersebut Ramli juga mengingatkan, adanya fenomena pengantin pesanan. Dalam hal ini, Imigrasi gencar menyampaikan terkait fenomena tersebut, dengan menginstruksikan kepada kepala-kepala divisi pada kantor Imigrasi yang menjadi wilayah koordinasi. Mereka harus betul-betul mewaspadai terhadap permohonan paspor bagi anak-anak muda, khususnya wanita ke negara tertentu, untuk menikah.

“Wanita-wanita muda itu banyak diimingi calo bisa hidup enak dan bisa mengirim uang setiap bulan kepada orang tua,” ungkapnya.

Padahal di negara itu, para wanita justru disuruh untuk bekerja. Perkawinan itu hanyalah modus terselubung untuk mempekerjakan wanita.

Peringatan itu disampaikan Ramli, dengan dasar laporan dari wilayah Jawa Barat dan Kalimantan Barat yang sudah banyak mengirimkan pengantin pesanan. “Jangan sampai hal yang sama juga sampai ke wilayah Jawa tengah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Imigrasi Kelas 2 Wonosobo, I Gusti Ketut Arief Rachman Hakim menambahkan, warga banyak yang mengajukan permohonan paspor untuk berwisata keluar negeri. Namun saat diwawancara, orang itu mengaku tidak memiliki ijazah, bahkan berwisata di Indonesia saja tidak pernah.

“Lah ini kok mau wisata ke luar negeri. Ini bukan berarti mendiskreditkan mereka tidak mampu, namun secara rasional juga sudah bisa diduga,” kata dia. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.