Imbas Rupiah Tertekan, Pengrajin Tahu Mengeluh Kenaikan Harga Kedelai Impor

Harga kedelai impor naik dari Rp 6.400 per kilogram saat momen Idul Fitri menjadi Rp 7.500 per kilogram saat ini.

SEMARANG- Para perajin tahu di Jalan Tandang Raya RT 3 RW 16, Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor saat ini.

Produksi tahu di Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Rabu (5/9/2018). Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Melambungnya harga kedelai impor akibat kenaikan dollar AS terhadap rupiah. Terpantau dari Bank Indonesia pada Rabu (5/9/2018) nilai satu dollar AS sama dengan Rp 15.002.

Pengrajin tahu di Jomblang, Warseno mengaku harga kedelai impor naik dari Rp 6.400 per kilogram saat momen Idul Fitri menjadi Rp 7.500 per kilogram saat ini.

“Kalau kedelainya dikurangi ya tahunya jadi kurang baik. Jika harganya dinaikan juga sulit. Apalagi persaingan antarperajin sangat tidak sehat. Mau enggak mau penghasilan kita jadi sangat mepet,” jelasnya.

Warseno menjadi sangat sulit menaikan harga tahu di pasaran. Mengurangi jumlah produksi tahu pun bukan pilihan yang baik baginya. Kondisinya semakin terjepit, lantaran ia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap persediaan kedelai impor yang berasal dari Amerika Serikat.

Dalam sekali produksi dirinya butuh 1 ton sampai 1,5 ton. Tahu buatannya rutin dikirim ke sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Semarang.

“Penggemar tahu terbesar itu ya Semarang. Kedelai satu-satunya bahan baku membuat tahu. Tidak bisa dikombinasikan sama lainnya,” ucapnya. (far)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.