Hutan Merbabu Terbakar, Sejumlah Desa Alami Gangguan Distribusi Air

Untuk memadamkan kebakaran, tim gabungan melakukan secara manual karena tidak memungkinkan menggunakan air.

MAGELANG – Pos lapangan Suwanting ditutup menyusul kebakaran di hutan Gunung Merbabu Kabupaten Magelang sudah padam, Jumat (13/9/2019). Kebakaran mengakibatkan suplai air bersih terganggu.

BPBD Kabupaten Magelang membentuk pos lapangan di BC Suwanting Sawangan untuk mendukung tugas tim gabungan yang melakukan pemadaman kebakaran di hutan gunung Merbabu, Jumat (13/9). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

“Api sudah berhasil dipadamkan, dan dari hasil evaluasi memutuskan untuk menutup pos lapangan di basecamp Suwanting,” terang Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto, Jumat (13/9) malam.

Edi menambahkan, hari ini sebanyak 180 personel naik ke lokasi kebakaran. Mereka merupakan tim gabungan dari berbagai instansi dan komunitas serta relawan. Seperti dari Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb), BPBD kabupaten Magelang, damkar, SAR, TNI, Polri, Satpol PP, dan lain sebagainya.

Dikatakan Edi, setelah diketahui ada kebakaran di gunung Merbabu pada Rabu (10/9) malam lalu, BPBD segera mendirikan pos lapangan di BC Suwanting dan truk dapur umum di lokasi untuk dukungan logistik petugas.

Pada Jumat (13/9) pukul 08.25, diberangkatkan sebanyak 122 personel untuk memadamkan api, disusul pukul 10.10 sebanyak 35 personel membawa logistik.
Pukul 12.30, tim tiba di lokasi kebakaran di atas pos 3 dan sekitar 15-17 personel melakukan pemadaman titik api.

“Ada bara api masih menyala di pepohonan, namun titik api sudah mulai mengecil,” terangnya.

“Berdasar info dari tim yang sudah turun, api sudah dipastikan padam, namun pantauan dari puncak sisi kiri atau wilayah Sobleman, masih terpantau asap yang artinya titik asap ada di sebelah utara pos 3 Suwanting,” urai Edi.

Kepala Resort Wonolelu TNGMb, Kurnia Adi Wiryawan menambahkan, hutan yang terbakar mencapai kurang lebih 225 hektare. Belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran.

Untuk memadamkan kebakaran, tim gabungan melakukan secara manual karena tidak memungkinkan menggunakan air. Areal yang terbakar, menurut Kurnia merupakan padang sabana atau rumput. Bahkan tanaman bunga edelweis yang banyak tumbuh di Merbabu juga ikut terbakar.

Ada potensi gangguan akibat kebakaran hutan itu, antara lain distribusi air dan sumber mata air ke masyarakat. Seperti di tuk Teyeng, pakis desa Gondangsari, Tuk Klanting, Kopeng Desa Tajuk, Tuk Sipendok, Ampel Desa Ngangrong dan Candisari.

Sedangkan desa yang terdampak langsung akibat terbakarnya pipa air yakni Gondangsari, Desa Tajuk, Desa Ngagrong dan Candisari. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.