Hujan Buatan Belum Mendesak Atasi Kekeringan di Jateng

Biaya tinggi dan peluang terjadi hujan minim, sehingga lebih memilih pengiriman air ke desa terdampak.

SEMARANG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menilai hujan buatan untuk menanggulangi kekeringan belum mendesak.

Air Bersih
Warga di Kecamatan Patebon Kendal memanfaatkan sumber air di dekat Lapas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Foto: metrojateng.com/edi prayitno

Biaya tinggi dan peluang terjadi hujan minim, sehingga lebih memilih menanggulangi kekeringan dengan pengiriman air ke desa terdampak.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Jawa Tengah, Sarwa Pramana kepada metrojateng.com, Rabu (15/8/2018).

“Saya belum melangkah ke hujan buatan, karena biayanya tinggi. Harus berkoordinasi dengan BNPB. Jangan sampai hujan buatan ini bisa mengganggu yang lain, karena berhubungan dengan arah angin dan di atas apakah ada potensi ada mendung atau enggak,” kata dia.

Sarwa menyampaikan dana untuk penanggulangan kekeringan saat ini tersedia Rp 600 juta di BPBD Jateng. Namun sampai kini belum terpakai. Lebih jauh, ia mengaku masing-masing pemerintah daerah masih mampu membiayai penanggulangan kekeringan. Selain itu, ada bantuan dari dunia usaha.

Di sisi lain, penanggulangan kekeringan untuk jangka panjang juga bisa memanfaatkan mata air yang ada di lereng pegunungan.

“Upaya kami saat ini adalah pengiriman air. Kemudian, penting juga untuk memaksimalkan sumber mata air yang ada untuk jangka panjang,” kata Sarwa. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.