Hii!! Ada Genderuwo Gentayangan di Simpang Lima

Sejumlah hantu legendaris seperti genderuwo, kuntilanak, pocong dan lain-lain, bangkit dari persemayamannya untuk menyambangi warga.

 

SEMARANG – Sejumlah warga Semarang yang sedang berolahraga di kawasan Car Free Day (CFD) Simpang Lima Semarang, dikejutkan dengan penampakan rombongan komplotan hantu.

Genderuwo, kuntilanak dan pocong saat ikut kampanye anti hoaks di Simpang Lima Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

Komplotan hantu bertanduk hitam dengan gigi taring yang tajam itu mendadak gentayangan di tengah keramaian warga. Berbagai hantu legendaris seperti genderuwo, kuntilanak, pocong dan lain-lain, bangkit dari persemayamannya untuk menyambangi warga di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu (24/3/2019).

Penampakan hantu di siang bolong itu tentu saja menyita perhatian masyarakat yang sedang berolahraga. Bukannya takut, warga malah berebut minta foto selfie.

Hantu-hantu tersebut ternyata diperankan oleh sejumlah anak muda dari Kelompok Milenial Antihoaks. Sembari membawa papan bertuliskan Anti-Hoax dan ragam pesan nyentrik lainnya, para hantu itu berjalan mengitari ruas jalan raya.

Mereka mengampanyekan perlawanan terhadap sebaran kabar bohong yang marak terjadi saat masa kampanye. Maklum saja, tensi politik sedang meninggi karena coblosan Pemilu kurang dari sebulan lagi.

“Aksi ini membawa pesan pada masyarakat agar berhati-hati ketika menerima suatu informasi, baik melalui media sosial atau media lainnya. Saring dulu info itu sebelum dishare,” kata Koordinator Kelompok Milenial Antihoaks Semarang, Arvin Wijaya.

Ia mengklaim kabar bohong bisa memecah belah bangsa. Malahan juga mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia mengaku memakai kostum hantu agar kampanye langsung mengena di hati masyarakat.

Hoaks, kata dia, mirip hantu yang menakutkan. “Masyarakat cukup antuasias saat kampanye tadi, meskipun dalam kondisi hujan gerimis. Bahkan, tidak sedikit masyarakat malah mengajak berfoto dengan rekan kami yang berkostum hantu legendaris di Kota Semarang,” paparnya.

Arvin menganggap kampanye yang dilakukan teman-temannya netral dan hanya sekedar menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ia ingin menyuarakan agar sama-sama menjaga bangsa ini, sebagai anak muda juga menyuarakan kebenaran. “Jangan mudah share sesuatu yang tidak jelas karena itu bisa berakibat fatal,” terangnya. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.