Hendi Tekankan Tak Ada Istilah Warga Minoritas di Kota Semarang

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) memberikan penghargaan pada Pelestari Pusaka Nonragawi Pecinan Semarang, Thio Tiong Gie dan Tok Hok Lay yang merupakan Dalang Wayang Potehi di penutupan Pasar Imlek Semawis (PIS) 2020 di kawasan Pecinan Semarang, Minggu (19/1/2020). Foto : metrojateng.com/anggun.

 

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan mulai hari ini tidak ada istilah masyarakat mayoritas atau minoritas di Kota Semarang. Sebab, yang ada adalah satu keluarga besar yang pengen membuat kotanya semakin maju baik dan hebat.

Hal itu disampaikan saat hadir dalam penutupan Pasar Imlek Semawis (PIS) 2020 di kawasan Pecinan Semarang, Minggu (19/1/2020).

“Jauh hari saat saya mendapatkan amanah dari masyarakat Kota Semarang, saya terus mencoba bertemu dengan tokoh masyarakat untuk meyakinkan bahwa yang bisa memperbaiki dan membuat Semarang menjadi hebat adalah orang-orang Semarang itu sendiri. Tidak mungkin orang Inggris kesini untuk bercerita kemajuan Kota Semarang, tidak mungkin orang Amerika datang untuk membantu mewujudkan kemajuan kota, maka dalam ini kita harus kompak dan kokoh,” ungkapnya.

Alhamdulillah, lanjut dia, saya bertemu dengan teman berbagai etnis, agama dan budaya. Sehingga, tidak ada lagi istilah minoritas di masyarakat Semarang.

Hendi begitu panggilan akrab Wali Kota Semarang, melalui momen Imlek mengajak masyarakat bergerak bersama.

“Ada yang kurang baik, sampaikan kita selesaikan secara adat. Ada yang baik ceritakan, agar mereka mau berinvestasi di Semarang, agar mereka plesir disini,” tuturnya.

Upaya itu dilakukan agar tidak ada lagi perbedaan di Kota Semarang. Sebab, sejak zaman Oei Tiong Ham yang berbeda etnis dengan masyarakat lokal pun sudah hidup rukun.

“Maka, tidak perlu diskusi soal kafir dan tidak kafir. Mari rapatkan barisan untuk membuat Semarang hebat. Agar warga Semarang hidup aman dan makin nyaman untuk ditinggali,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Hendi didampingi Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim juga memberikan apresiasi dan anugerah penghargaan kepada Pelestari Pusaka Nonragawi Pecinan Semarang, Thio Tiong Gie dan Tok Hok Lay yang merupakan Dalang Wayang Potehi.

Harjanto menyampaikan, wong Semarang meyakini bahwa keberagaman adalah keniscayaan. Keberagaman adalah rahmat. Keberagaman adalah Pasar Imlek Semawis.

“Pada Pasar Imlek Semawis kali ini kami berupaya melestarikan Wayang Potehi yang juga simbol keberagaman. Dulu dalang wayang potehi selalu orang Tionghoa dan pementasannya menggunakan Bahasa Hokkian. Kini dalang wayang potehi kebanyakan dari kalangan etnis Jawa dan pementasannya menggunakan Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia. Bapak Tok Hok Lay, salah satu tokoh wayang potehi dari Jombang berkata, para dalang itu malah lebih Tionghoa dari Tionghoa. Mereka lebih tahu dan lebih menguasai adat dan ritual Tionghoa,” jelasnya.

Menutup Pasar Imlek Semawis ke 17 itu, Pemerintah Kota Semarang berencana akan membenahi kawasan wisata di Pecinan Semarang terutama di Gang Warung yang merupakan lokasi Warung Semawis.

“Lokasi Warung Semawis yang selalu digelar di akhir pekan akan kami bangun menjadi lebih baik agar wisatawan makin banyak yang datang ke sana,” kata Hendi.(anggun)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.