Hari Kartini dan Perempuan-Perempuan Pesisir

Oleh: Hendra Wiguna

Selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, perempuan pesisir secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi hasil perikanan serta kegiatan pemenuhan kebutuhan rumah tangga

HARI Kartini identik dengan penghayatan perjuangan seorang perempuan Indonesia, yakni Raden Ajeng Kartini. Beliau mencetuskan pemikiran-pemikiran berkenaan dengan kondisi sosial perempuan Indonesia. RA Kartini lahir di Jepara daerah yang terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah, daerah ini terkenal dengan kerajinan ukir serta populasi nelayan yang cukup besar.

nelayan morodemak kembali melaut
Ilustrasi                                                                                   Foto: metrojateng.com/dok

Selain RA Kartini, perempauan pesisir yang menjadi inspirasi perempuan Indonesia adalah Laksamana Malahayati seorang laksamana laut perempuan pertama di dunia. Beliau adalah panglima perang Kesultanan aceh yang tersohor karena keberaniannya saat melawan armada angkatan laut Belanda dan portugis pada abad ke 16 M. Dan bisa jadi banyak sekali perempuan-perempuan pesisir yang dapat dijadikan inspirasi, baik perempuan pejuang dimasa silam ataupun sekarang ini.

Indonesia memiliki laut yang lebih luas dari daratannya, panjang garis pantai Indonesia sendiri sekitar 99.093 km menjadikannya terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kebanyakan disepanjang garis pantai inilah terdapat perkampungan, yang pada umumnya cukup padat. Mayoritas masyarakatnya menjadi nelayan tradisonal bagi yang laki-laki sedang perempuannya berdagang. Adapun aktivitas nelayan tersebut waktu melautnya bisa di pagi hari ataupun dimalam hari, durasi waktunya kebanyakan antara 8-10 jam. Sedang perempuannya biasanya menjajakan hasil tangkapan suaminya baik berupa ikan mentah ataupun ikan yang sudah diolah.

Jika kita perhatikan dengan seksama, aktivitas atau durasi jam kerja perempuan dipesisir itu lebih panjang ketimbang dengan aktivitas nelayan terutama untuk di daerah Kota Semarang. Jika nelayan melaut dari pukul 05.00 WIB, maka perempuan atau istri nelayan ini menyediakan perbekalan sebelum jam 05.00 WIB artinya perempuan ini memulai aktivitasnya lebih awal dari nelayan/suaminya.

Ketika nelayan melaut, istri nelayan ini menyelesaikan tugas rumah tangga seperti bersih-bersih ataupun menyiapkan perbekalan anaknya ketika hendak bersekolah. Kemudian dilanjut dengan aktivitas mengolah hasil tangkapan ikan, ataupun ketika nelayan sudah pulang ikut membersihkan ikan hasil tangkapan terutama kerang, adapula yang aktif membuat kerjinan dari kulit kerang. Selain itu, mereka juga kadang langsung menjajakan hasil tangkapan dan pengolahan ikan ke pasar.

Jadi selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, perempuan pesisir secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi hasil perikanan serta kegiatan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bahkan dibeberapa daerah bisa dijumpai perempuan pesisir ini menjadi nelayan, seperti di Desa Purworejo Kabupaten Demak dan di Desa Torosiaje Laut Kabupaten Pohuwato. Sekarang sudah berdiri sebuah organisasi yang menaungi perempuan-perempuan nelayan yakni Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Melihat begitu gigihnya perempuan pesisir ini, perlu perhatian lebih dari pemerintah terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini dimaksudkan sebagai perwujudan dari penghayatan Hari Kartini, momentum ini jangan semata-mata hanya sebagai agenda tahunan saja. Namun, menjadi refleksi bagi keberjalanan pemerintah sudah sejauh mana memberikan perhatian kepada perempuan pesisir. Karena perempuan adalah tiang Negara, Annisa ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad. (*)

———————————-

Tentang Penulis. Hendra Wiguna adalah Humas Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Semarang. Ia dapat dihubungi lewat surel: [email protected]

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.