Harga Kedelai Naik Turun, Perajin Tempe Kurangi Produksi

Harga kedelai naik-turun terjadi sepanjang 2018, dari Rp 7.000 hingga saat ini menjadi Rp 7.600 per kilogram.

JEPARA – Harga kedelai sebagai bahan baku utama dalam membuat tempe masih tinggi di angka Rp 7.600 per kilogramnya. Padahal, di musim kemarau permintaan tempe mengalami penurunan.

Harga Kedelai
Perajin tempe di Jepara mengeluhkan tingginya harga kedelai. Foto: metrojateng.com

Roifah (34), perajin tempe di Desa Pecangaan Wetan RT 4 RW 4 Pecangaan, Kabupaten Jepara menuturkan bahwa harga kedelai naik-turun terjadi sepanjang 2018. Mulai dari Rp 7.000 hingga saat ini menjadi Rp 7.600 per kilogram.

“Harga kedelai naik-turun. Ada yang Rp 7.000, naik jadi Rp 7.500, dan sekarang Rp 7.600 per kilogramnya. Itu sudah tinggi,” katanya, Senin (13/8/2018).

Perubahan harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe sudah terjadi sejak awal 2018. Namun, kondisi itu tidak memengaruhi harga jual tempe.

“Meskipun naik turun, harga tempe masih stabil. Hanya saya ukurannya yang berubah. Sebagai produsen tidak bisa menaikkan harga jual tempe,” lanjutnya.

Untuk saat ini, permintaan tempe menurun seiring memasuki musim kemarau. Dia pun yang biasanya memproduksi 50 kilogram harus berkurang antara 40-45 kilogram per hari.

“Kalau normal 50 kilogram kedelai per harinya. Tapi kalau musim kemarau konsumen menurun, jadi harus dikurangi menjadi 40-45 kilogram per hari,” paparnya.

Kedelai sendiri dia dapatkan pasokan dari Kudus. Menurutnya kualitas kedelai impor lebih bagus ketimbang kedelai lokal.

“Kalau stok kedelai aman karena sudah ada yang kirim dari Kudus. Untuk yang impor dibuat tempe karena lebih bagus, sedangkan yang lokal biasanya dipakai untuk membut tahu,” ungkapnya.

Roifah menambahkan, harga tempe saat ini mulai Rp 1.250 sampai Rp 3.000 per biji tergantung ukurannya.

“Kalau yang panjang itu Rp 3.000 per biji dan memang yang banyak dicari itu. Tapi ada yang ukuran kecil Rp 10.000 dapat 7 sampai 8 biji,” imbuhnya.

Dia berharap, pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai supaya produksi tempe, terutama di Kabupaten Jepara tetap dapat beroperasi.

“Ya karena ini sudah menjadi lahan hidup,” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.