Harga Cabai Anjlok, Kementan Dianggap Abaikan Nasib Petani

Tindakan Kementan dan Bulog dianggap gagal menyerap hasil panen petani cabai.

Foto: Pedagang cabai saat menggelar dagangannya di Pasar Karangayu Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

SEMARANG –¬†Fenomena anjloknya harga cabai merah keriting sampai ke titik terendah sangat disayangkan oleh para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI). Mereka melihat tindakan petani cabai di Desa Jeruk Gulung Kecamatan Dempet, Demak yang membuang hasil panennya lantaran kecewa kepada Kementerian Pertanian (Kementan).

Sekretaris Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Agus Ruli Ardiansyah sangat menyayangkan tindakan Kementan dan Bulog yang dianggap gagal menyerap hasil panen petani cabai.

Ia menilai seharusnya Kementan berupaya memberikan pelatihan untuk mengatur pola tanam supaya tidak terjadi over produksi yang menyebabkan jatuhnya harga.

“Harusnya kalau memang cabai di Demak ini dilihat menjadi sebagai komoditas strategis, pemerintah juga bisa dilakukan penetapan harga pembelian, seperti beras dan komoditas lainnya,” ujar Agus, Selasa (15/1/2019).

Ia pun meminta kedua institusi tersebut lekas merespon kekecewaan para petani. Caranya tak hanya menyerap hasil komoditas pangan dalam negeri. Tapi juga komoditas holtikultura.

Para petani semestinya tidak lagi terbebani biaya distribusi. “Pemerintah harusnya bisa menyerap. Peran Bulog yang harus dilihat dan dimaksimalkan, bukan hanya kepada beras, tapi juga komoditas lainnya, misalnya produk holtikultura yang dinilai strategis,” ungkapnya.

Ia beranggapan bahwa kepastian daya serap pemerintah atas komoditas holtikultura sangat penting karena tingkat fluktuatif harganya sangat tinggi. Sebab masalah yang muncul saat ini yaitu terkait anjloknya harga, tanaman holtikultura lebih tinggi dibanding tanaman pangan.

Sedangkan Anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro mendesak tim Satgas Pangan Mabes Polri menelisik penyebab anjloknya harga cabai di pasaran.

“Pengalaman saya beberapa waktu lalu, harga cabai Rp 20 ribu, terus cabai ditahan tidak masuk ke pasar induk. Harganya jadi Rp 40 ribu. Tapi beli ke petani di bawah Rp 20 ribu. Ternyata ada permainan,” urainya.

Kementan harus memberikan subsidi kepada para petani agar tak mengalami kerugian saat harga panennya merosot.

Dikontak terpisah, Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi menuding apa yang dilakukan para petani Demak itu hanya fenomena harian. Saat ini masalah tersebut pun dianggap sudah selesai dan petani sudah menikmati harga cabai di kisaran Rp18 ribu per kilogram.

“Kemarin yang harganya yang bagus itu sudah Rp18 ribu. Sudah senang semua. Barang sudah selesai, jangan heboh,” tutupnya. (far)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.