Hanya Kejar RIPH, Importir Bawang Putih Diduga Tipu Petani Semarang

Kami dijanjikan bantuan benih, pupuk dan alat pertanuian. Mereka tidak menempati, padahal lahan sudah kami olah.

SEMARANG- Importir bawang putih PT Cipta Makmur Sentosa diduga menipu para petani di Dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dengan modus
mencari rekomendasi impor produk holtikultura (RIPH).


Ketua Gapoktan Desa Batur, Pitoyo memeriksa bibit tanaman, Rabu (5/12/2018). Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dusun Selongisor, Pitoyo mengatakan, importir tak menepati janji dalam kontrak kerjasama impor bawang putih. Importir, kata dia, wajib menanam bawang putih sebanyak lima persen dari rencana impor.

“Kami dijanjikan bantuan benih, pupuk dan alat pertanuian. Mereka tidak menempati, padahal lahan sudah kami olah,” kata dia kepada metrojateng.com, Rabu (5/12/2018).

Akibat wanprestasi itu, petani mengaku rugi senilai ratusan juta rupiah, karena telah mengeluarkan biaya untuk mengolah tanah dan membiarkannya selama setahun sejak 2017-2018 lahannya menganggur, karena tak ada bibit dari importir.

Jumlah lahan garapan yang terlantar fantastis. Menurut perkiraan Pitoyo, di desanya sendiri terdapat 12 gapoktan dengan luas lahan 110 hektare yang termasuk bagian 435 hektare secara keseluruhan yang menjalin kontrak dengan PT Cipta Makmur.

“Mereka cuma mau cari RIPH saja agar bisa impor. Buktinya, sampai kini tak ada kejelasan kerja
sama,” ujar dia.

Pitoyo meminta Kementrian Pertanian turun tangan, karena importir diduga melanggar Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 38 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura yang mewajibkan importir menanam lima persen bawang putih di dalam negeri.

Direktur PT Cipta Makmur Sentosa, Wanti, dua kali dihubungi untuk mengonfirmasi dugaan tersebut, namun tak menjawab telepon. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.