Hana Madness Buka Fakta Pemasungan Melalui Film In Chains

Di mancanegara, fenomena pemasungan telah lama dihentikan. Namun justru di Indonesia, pemasungan masih terjadi di berbagai tempat. Hana Madness menyorotinya melalui sebuah karya film dokumenter.

Hana Alfikih yang akrab dikenal sebagai Hana Madness berbagi cerita tentang orang dengan gangguan jiwa di Jalan Stonen 29, Semarang. (metrojateng.com/Ahmad Khoirul Asyhar)

 

SEMARANG – Setiap orang mempunyai potensi untuk memiliki gangguan jiwa. Pemasungan, pengurungan, dan pengucilan terhadap orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bukanlah cara yang tepat untuk penanganan.

Setiap penderita disabilitas mental tersebut membutuhkan penanganan yang tepat sesuai dengan diagnosa masalah kejiwaan.

Hal itu yang mendorong Hana Alfikih atau akrab dikenal sebagai Hana Madness, seniman visual dan aktivis kesehatan jiwa asal Jakarta, untuk membuat sebuah film dokumenter berjudul In Chains. Film yang digarap bersama The Vacuum Cleaner dari Inggris tersebut menyoroti bagaimana pemasungan dan pengurungan masih banyak terjadi, khususnya di daerah pelosok Indonesia.

Dalam film ini Hana mengambil kasus para penyintas gangguan jiwa di sebuah komunitas kesehatan jiwa di Cianjur, Jawa Barat.

“Film ini hadir untuk menyentil pemerintah dan masyarakat yang belum paham tentang orang dengan gangguan jiwa. Pemasungan itu masih banyak terjadi, khususnya di pelosok-pelosok,” ujar Hana saat berbagi cerita di Gerobak Art Kos, Jalan Stonen 29, Semarang, Kamis (28/2/2019) lalu.

Banyaknya kasus pemasungan di pelosok tersebut, lanjut Hana, bisa disebabkan karena kesulitan masyarakat untuk mengakses psikiater dan psikolog. Terlebih di Indonesia sendiri jumlah psikiater dan psikolog tidak sebanding dengan jumlah penduduk maupun penderita gangguan jiwa.

“Selain kesulitan akses dan jumlah tidak sebanding itu, soal stigma dan pemahaman masyarakat tentang gangguan jiwa juga belum menyeluruh. Orang akan berpikir kalau gangguan jiwa atau mental pasti gila,” ujarnya.

Hana sendiri memiliki pengalaman yang komplit terkait gangguan jiwa. Sejak kecil ia sudah mengalami banyak hal buruk. Pada saat ia SMP sudah memiliki keinginan untuk kabur dari rumah dan selalu menyakiti diri sendiri.

“Aku memiliki miliaran gejolak emosional yang tidak pernah aku mengerti sampai sekarang. Mereka telah hidup dan melekat pada diriku. Karya seni yang aku buat adalah interpretasi dari kondisi jiwaku dan menggambarkan setiap konflik indah di dalam diri yang aku ubah menjadi sesuatu yang cantik dan berwarna-warni,” kisahnya.

Hana mengatur kalau masih banyak pekerjaan rumah di Indonesia terkait penanganan orang dengan gangguan jiwa. Masyarakat harus mulai memahami dan memberikan dukungan kepada orang dengan gangguan jiwa.

“Kalau misal ada temanmu bilang mau bunuh diri. Jangan menertawakan. Suatu waktu itu bisa saja terjadi. Kemudian jangan menambahi dengan menyalahkan dan mengucilkannya. Beri support agar ia tidak merasa sendiri,” pesannya.

Sementara itu Diana Mayorita, konsultan psikologi di Maeagama Consulting, mengatakan setiap orang mempunyai potensi gangguan jiwa. Menyadari sejak awal terkait indikasi tersebut sangatlah membantu. Terkait pemasungan itu memang isu sensitif karena banyak faktor yang melatarbelakangi seperti keamanan.

“Ketika kita menyadari lebih awal, kita akan bisa membantu teman yang lain. Bantuan itu tidak perlu yang besar, cukup memberikan telinga kita itu bisa menjadi obat paling manjur bagi orang dengan gangguan jiwa. Perlu ditekankan lagi, gangguan jiwa bukan berarti gila seperti yang dilihat di jalan,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Diana menambahkan, penanganan setiap orang dengan gangguan jiwa itu berbeda-beda sesuai dengan diagnosanya. Selain itu juga harus ada kerjasama antara psikiater dengan psikolog.

“Harus balance, antara psikiater dan psikolog. Sekarang ini belum banyak psikiater yang bekerjasama dengan psikolog. Kalau soal keterbatasan akses psikiater dan psikolog, lingkup sekitar bisa memberikan support dengan tidak mengucilkan atau mengejeknya,” pungkasnya. (aka)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.