Hadir di Reuni KNPI Jateng, Tjahjo Kumolo Ingatkan Ancaman Radikalisme

Setelah 74 tahun Indonesia merdeka tantangan yang paling berat, yaitu masalah terorisme dan radikalisme.

SEMARANG – Sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Jawa Tengah, melakukan reuni di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Minggu (13/10/2019).

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyambut kedatangan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam reuni alumni KNPI Jateng, di Rumah Dinas Wali Kota, MInggu (13/10/2019). Foto: dokumentasi

Selain Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, pada acara bertajuk Temu Kangen Alumni KNPI Jawa Tengah itu juga hadir Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Dia pernah menjadi pengurus KNPI Jawa Tengah periode 1985 – 1996.

Bahkan tercatat Tjahjo pernah menjadi Sekretaris Jenderal KNPI Pusat pada 1988 – 1991, dan akhirnya menjadi Ketua KNPI Pusat sejak 1990 hingga 1993.

Sebagai tuan rumah, Wali Kota Hendrar Prihadi saat itu didapuk untuk membuka acara. ‘’Beberapa tahun lalu kita juga pernah mengadakan temu alumni, tetapi tahun ini yang hadir saya rasa jauh lebih komplit,’’ ujar Ketua KNPI Jawa Tengah periode 2004 – 2007 dan 2007 – 2011 itu.

Sementara itu, Tjahjo Kumolo dalam kesempatan tersebut berbicara panjang lebar tentang persoalan kebangsaan. Khususnya tentang keprihatinan terhadap masalah yang sekarang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.

‘’Kalau kita cermati, perkembangan dan dinamika rasa persatuan dan kesatuan bangsa cukup memprihatinkan. Hari ini orang saling mengenal atau dekat, tidak melihat prestasinya atau posisinya, tapi dari asli mana, daerah mana suku mana agama apa,’’ ungkap Tjahjo.

Menurut Tjahjo ada empat tantangan terbesar bangsa Indonesia. Pertama yaitu radikalisme, kedua terorisme, ketiga yaitu narkoba dan keempat adalah kesenjangan sosial yang masih ditemui di Indonesia.

“Setelah 74 tahun Indonesia merdeka tantangan yang paling berat, yaitu masalah terorisme dan radikalisme. Terorisme dan radikalisme merupakan ancaman,” ungkap Tjahjo.

Salah satu contohnya yaitu ketika dirinya dalam kapasitas sebagai Menteri Dalam Negeri harus mengeluarkan izin organisasi masyarakat. Dirinya menceritakan ada ormas yang jelas-jelas anti Pancasila.

“Ada 427 lebih organisasi masyarakat yang sebagian besar ormas keagamaan yang mendaftar. Di situ ada ormas yang AD ARTnya jelas mencantumkan anti Pancasila. Langsung di-stop dan tidak dikeluarkan izin karena jelas-jelas melanggar ideologi negara” urainya.

Lebih lanjut Tjahjo menuturkan agenda strategis nasional untuk beberapa waktu ke depan harus kembali memperkuat rasa cinta tanah air, cinta bangsa dan cinta negara. Cinta kepada bangsa ini harus dibangun. Bahwa Indonesia ini terdiri atas beragam suku, budaya bahasa agama dipersatukan oleh Pancasila.

Di akhir sambutannya, Tjahjo Kumolo menitipkan pesan kepada KNPI agar dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa, saling menghargai memberi kesempatan untuk saling berserikat, menghargai orang lain untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.

Dan sebagai penutup dia mengajak semua alumni KNPI untuk tegas dan berani menolak yang ingin memecah belah NKRI. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.