Gubernur Akpol: Generasi Milenial harus Jernih Cerna Informasi

Tumbuh dalam era globalisasi dengan fasilitas teknologi informasi canggih, membuat generasi milenial sangat rentan terpapar hoax maupun ujaran kebencian.

Kepala Lemdiklat Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto bersama Gubernur Akpol Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat memberikan keterangan usai membuka Seminar Sekolah “Antisipasi Hoax dalam Menghadapi Pesta Demokrasi 2019” di Gedung Serbaguna Akpol Semarang. (Foto: Ahmad Khoirul Asyhar/metrojateng.com)
SEMARANG – Generasi milenial tumbuh dalam era globalisasi dengan fasilitas teknologi informasi yang cukup canggih. Posisi tersebut dinilai sangat rentan terpapar hoax maupun ujaran kebencian yang beredar sangat cepat melalui media sosial.

 

Maka dari itu dibutuhkan bekal untuk mencerna setiap informasi yang beredar. Terlebih menjelang pesta demokrasi lima tahunan banyak hoax yang bertebaran.

 

“Memang generasi milenial ini generasi yang harus kita jaga. Posisinya berada pada kondisi yang jauh berbeda dengan zaman saya. Generasi ini ikut dalam suasana globalisasi dengan sarana dan fasilitas IT yang cukup canggih. Jangan sampai mereka tercerabut dari akar budaya sebagai bangsa Indonesia karena terpengaruh dunia siber yang sangat kompleks,” kata Kepala Lemdiklat Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto usai membuka Seminar Sekolah dengan tema Antisipasi Hoax dalam Menghadapi Pesta Demokrasi 2019 yang digelar di Gedung Serbaguna Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Rabu (6/2/2019).

 

Menurut Arief, seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Taruna tingkat IV Akpol tersebut sangat tepat dalam memilih tema. Tema hoax sangat aktual karena saat ini sedang ada kontestasi dalam rangka Pemilu. Di mana banyak masalah hoax yang terjadi dan harus diperangi bersama.

 

Keberadaan perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di wilayah Jawa Tengah dan DIY dalam seminar ini juga memberikan harapan akan terjalin jaringan yang akan dibawa saat sama-sama terjun di masyarakat.

 

“Seminar ini dapat memberikan bekal serta kejernihan dalam mencerna informasi, juga pengetahuan tentang hoax yang harapannya bisa ditularkan lebih luas saat sama-sama terjun di tengah masyarakat,” papar Arief.

 

Gubernur Akpol, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, menambahkan, para peserta selain taruna Akpol juga tergolong kaum milenial serta pemilih pemula yang hidup di era digital. Generasi ini harus jernih melihat informasi yang beredar karena dampak hoax dan ujaran kebencian cukup kompleks.

 

“Dampak dari berita bohong tidak hanya merusak pemahaman seseorang atas suatu peristiwa, namun juga akan merusak sendi-sendi kehidupan nasional. Warga negara akan saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya karena berita yang tidak benar. Proses demokrasi akan terganggu,” katanya.

 

Seminar Sekolah “Antisipasi Hoax dalam Menghadapi Pesta Demokrasi 2019”, diikuti sekitar 610 peserta. Terdiri dari 306 Taruna tingkat IV, 50 Taruna tingkat II, dan 254 mahasiswa dari 22 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut antara lain Dosen Utama Akpol Adi Nugroho, Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat, Dir Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo, dan Karo Multimedia Divhumas Polri Brigjen Pol Budi Setiawan. (aka)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.