Gerakan Rawat Bumi, Kepedulian Lewat Platform Lindungi Hutan

Oleh: Rizka Ayu Fardani

Gerakan Rawat Bumi ini adalah sebuah momentum untuk berterima kasih kepada bumi yang telah menjadi tempat yang nyaman walau seringkali penghuninya tak berlaku baik.

KERUSAKAN hutan yang terus terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun. Dewan Nasional Perubahan Iklim pada tahun 2014 mencatat 53 persen jumlah hutan di Indonesia telah terdeforestasi dan terdegradasi menjadi lahan kritis.

Lindungi hutan
foto: dokumentasi LindungiHUtan

Keadaan itu membuat sekelompok pemuda asal Semarang tersentuh untuk berbuat sesuatu dan melakukan perubahan. Melalui Yayasan LindungiHutan yang menjadi platform penggalangan dana digital untuk pelestarian hutan Indonesia dan kesejahteraan petani bibit, mereka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli dan ikut berkontribusi dalam Gerakan Rawat Bumi.

“Jadi, Gerakan Rawat Bumi ini adalah sebuah momentum untuk berterima kasih kepada bumi yang telah menjadi tempat yang nyaman walau seringkali penghuninya tak berlaku baik. Dengan bergerak bersama dengan seluruh elemen masyarakat diharapkan kegiatan ini dapat membawa kebaikan bagi masa depan bumi, masa depan kita,” jelas Hario Laskito Ardi, Chief Excecutive Officer LindungiHutan.

Awalnya Hario, bersama dua rekannya Ben, dan Chashif mendirikan Yayasan LindungiHutan. Mereka merasa tidak ada lagi harapan untuk melakukan Gerakan Rawat Bumi ini. Tetapi melihat project Harapan Hutan yang dihelat pada Desember 2018 lalu di Semarang dan Kendal, yang dirasa cukup memuaskan, mereka menjadi lebih optimis. Mereka yakin jika project dalam rangka memperingati Hari Bumi ini akan berhasil juga.

Haparan Hutan yang digelar Desember 2018 itu bersamaan dengan perayaan ulang tahun kedua LindungiHutan. Hasilnya cukup menyejutkan. Ada 16.000 bibit yang tertanam dengan diikuti hampir 1.000 partisipan dari berbagai latar belakang. Hal tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak yang peduli dan masih banyak yang berpihak pada kebaikan.

“Ternyata harapan itu masih ada, dan kami ingin terus membuktikannya” lanjut Hario.

Gerakan Rawat Bumi, yang sudah diluncurkan awal Februari 2019 lalu. Gerakan ini akan dilaksanakan pada 21 April 2019 mendatang. Sejauh ini telah ada 85 campaigner dari daerah dari Aceh hingga Jayapura yang telah bergabung untuk melakukan aksi penanaman dan bersih sampah. Termasuk di dalamnya tiga campaigner dari Semarang.

Untuk berkontribusi dalam gerakan ini, dapat dilakukan dengan mengunjungi lindungihutan.com/rawatbumi. Di dalamnya juga mencantumkan daftar daerah yang turut dalam gerakan, serta uraian kampanye yang harus bisa dilakukan.

Masyarakat dapat berkontribusi dengan cara donasi maupun ikut gabung aksi sesuai domisili masing-masing. Donasi tergantung harga bibit, mulai dari 5.000 hingga 40.000 per batang, cukup terjangkau bukan?

Jadi, tunggu apa lagi? Mari bersama merawat bumi, bersama menghijaukan penjuru negeri !!

—–

Tentang Penulis. Rizka Ayu Fardani, sering disapa Kika adalah seorang content writer yang aktif dalam platform LindungiHutan

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.