Gelombang E-Commerce, Medium UMKM Tembus Pasar Global

Kota Semarang memiliki potensi besar di sektor UMKM yang dapat dikembangkan melalui pemasaran online.

GELOMBANG usaha rintisan (startup) kelas nasional ataupun internasional menyerbu Kota Semarang, beberapa tahun terakhir. Mereka hadir untuk memperluas pasar dengan menawarkan berbagai layanan dan fasilitas yang memudahkan warga sebagai konsumen. Sebut saja mulai transportasi, jasa pesan antar makanan, antar jemput barang, hingga belanja. Semua dapat diakses dengan cepat dan mudah melalui aplikasi daring (online). Termasuk kehadiran PT Global Digital Niaga (Blibli.com) yang turut mengikatkan diri secara khusus dengan Pemerintah Kota Semarang melalui penandatanganan kesepakatan antara Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan Senior Vice President Merchant Sales Operation and Development Blibli.com, Geoffrey Lew Dermawan pada akhir 2018 lalu.

Berbagai produk kerajinan tangan dan cindera mata buatan perajin UMKM Semarang dipamerkan di Semarang Kreatif Galeri Kawasan Kota Lama. Pemasaran produk tersebut sekarang juga merambah secara online melalui e-commerce. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Melalui ikatan itu Blibli.com berkomitmen untuk memberikan fasilitas jejaring agar produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Semarang dapat terdistribusi ke seluruh Indonesia hingga menjadi komoditi ekspor.

“Kota Semarang memiliki potensi besar di sektor UMKM yang dapat dikembangkan melalui pemasaran online. Tidak usah memikirkan terkait biaya pengiriman produk, karena kami akan gratiskan. Dengan begini saya yakin semua bisa go global,” tuturnya seusai penandatanganan kesepakatan saat itu.

Fasilitas tersebut tentu tidak saja berdampak positif bagi pelaku usaha yang sudah berjalan, karena produk makin dikenal dan pasar semakin luas. Bagi bisnis baru, penjualan melalui e-commerce tidak memerlukan biaya yang besar, serta tempat fisik untuk membuat usaha. Kemudahan ini secara tak langsung, dapat membuka beragam peluang usaha yang dapat dilakukan oleh pebisnis lokal sekalipun.

Seperti yang dirasakan pemilik Oleh-Oleh Djoe Semarang, Gita. Sebagai penerus usaha keluarga yang berdiri sejak 1960 itu, dirinya harus tanggap dalam menghadapi perkembangan zaman. Meski penjualan produk oleh-oleh khas Jawa Tengah dan Semarang sudah terlayani di toko yang berada di kawasan pusat oleh-oleh Jl Pandanaran Semarang, namun dia kini juga mulai merambah ke pemasaran daring (dalam jaringan).

“Tidak hanya memanfaatkan sosial media dan website, kami juga bergabung sebagai seller di sejumlah e-commerce, dan Blibli.com salah satunya. Melalui lapak online ini bisa meningkatkan trafik penjualan, disamping juga dapat memperluas pasar karena konsumen berasal dari luar kota Semarang,” tuturnya.

Tidak hanya produk makanan oleh-oleh khas Semarang, ragam kerajinan tangan, cendera mata, batik dari perajin UMKM juga dipasarkan melalui lapak daring Blibli.com. Bahkan, e-commerce bernuansa biru ini membuat halaman khusus untuk UMKM Semarang, sehingga memudahkan konsumen yang ingin belanja produk-produk Kota ATLAS tanpa menjejakkan kaki kesana.

Dorong Ekonomi Lokal

Melalui upaya itu memungkinkan konsumen di daerah rural atau terpencil dapat menikmati produk yang sebelumnya sulit diakses. Terutama bagi konsumen online luar Jawa, dapat berhemat sekitar 11 persen-25 persen. Dalam kasus ini, berbelanja online jauh lebih murah dikarenakan biaya inventaris distributor barang offline yang tinggi.

Kerja sama dengan e-commerce membuat produk UMKM tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga sampai ke pasar Internasional. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Maka tak dapat dipungkiri, bisnis jenis ini memiliki beberapa keunggulan, baik dari sisi lokal, maupun perekonomian Indonesia. Dari segi waktu, biaya, dan tenaga, bisnis ini seakan memanjakan penggunanya dengan banyak keunggulan.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Maria Imaculata Sri Wahyu Widyastuti mengatakan, saat ini baru sekitar tiga puluh persen UMKM yang telah memasarkan produknya melalui e-commerce.

“Kerja sama dengan e-commerce membuat produk UMKM tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga sampai ke pasar Internasional,” ungkapnya.

Namun, lanjut dia, masih banyak pelaku UMKM yang terkendala untuk masuk ke pasar e-commerce. “Untuk itu kami terus melakukan pendampingan, termasuk memberikan pelatihan-pelatihan agar mereka lebih melek teknologi. Sebab, tidak semua pelaku UMKM melek teknologi. Sehingga, kami juga melakukan pendampingan termasuk ke keluarga seperti anaknya atau saudara yang bisa membantu dalam hal tersebut,” jelasnya.

Dengan semakin meningkatnya pelaku UMKM di Semarang yang merambah ke pasar e-commerce, maka mereka harus menambah jumlah tenaga kerja untuk menjaga kualitas produk.

“Kami tekankan ke UMKM kalau sudah berani memasarkan produk lewat online, maka kualitas wajib dipenuhi. Ketepatan waktunya produksi hingga pengiriman ke konsumen juga perlu diperhatikan,” kata Maria.

Sementara Andy Adrian, Deputy CMO Blibli.com mengungkapkan, sejak berdiri tahun 2011, Blibli.com sudah membantu UMKM di seluruh Indonesia. Pihaknya juga memfasilitasi para pengusaha kreatif dalam menjawab tujuh tantangan yang kerap dihadapi saat mengembangkan usaha.

“Ketujuh tantangan ini adalah pemasaran, permodalan, jaringan, sistem teknologi, pengetahuan bisnis, penggunaan platform online, serta kreativitas dan inovasi,” ungkapnya.

Selain itu, Blibli.com menargetkan UMKM yang berjualan dapat menembus pasar global melalui acara international expo di Eropa dan memberikan kesempatan bagi pengusaha kreatif untuk berkolaborasi dengan merek-merek terkemuka. (Anggun Puspita)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.