12,5 % Masyarakat Indonesia Mengidap Penyakit Ginjal Kronik

Waspadai Junk Food dan Begadang

Penyakit ginjal kronik saat ini telah diakui oleh WHO sebagai masalah kesehatan serius di dunia.

PT Kalbe Farma Tbk bersama Indonesia Kidney Care Club (IKCC) melakukan kegiatan Perayaan Hari Ginjal Sedunia di Hotel Pandanaran Semarang, Minggu (24/3/2019). Foto: metrojateng.com/Ade Lukmono

 

SEMARANG – PT Kalbe Farma Tbk bersama Indonesia Kidney Care Club (IKCC) menyelenggarakan Kampanye Hari Ginjal Sedunia di Hotel Pandanaran Semarang, Minggu (24/3/2019). Sebanyak 400 anggota IKCC yang merupakan pasien ginjal kronik, pendamping, paramedis berkumpul untuk mendapatkan edukasi serta motivasi dalam perayaan Hari Ginjal Sedunia yang jatuh pada pekan kedua setiap bulan Maret.

Dalam acara tersebut, masyarakat diberikan pengetahuan seputar menjaga kesehatan ginjal agar tidak mengalami sakit ginjal. Selain itu, para pasien juga bebas bertanya dan berbagi seputar kesehatan selama menjalani perawatan.

Seperti diketahui, Penyakit Ginjal Kronik (PGK) atau orang biasanya menyebut penyakit gagal ginjal adalah penyakit yang diderita dalam waktu lama, bersifat menahun, progresif dan tidak bisa kembali ke kondisi semula atau seumur hidup penderitanya.

Berdasarkan studi epidemiologi PERNEFRI menunjukkan bahwa sebanyak 12,5 persen dari masyarakat diketahui mengalami penyakit ginjal kronik. Data Internasional menyebutkan bahwa sekitar 10 persen dari populasi dunia menderita Penyakit Ginjal Kronik diprediksikan akan meningkat hingga 17 persen pada dekade selanjutnya. Penyakit ginjal kronik saat ini telah diakui oleh WHO sebagai masalah kesehatan serius di dunia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Ginjal Hipertensi Senior dan Kompeten, dr Lestariningsih, Sp.Pd.,KGH memaparkan penyebab utama kerusakan ginjal adalah gaya hidup masyarakat saat ini yang suka bekerja hingga larut malam, minum minuman keras, mengkonsumsi junk food serta terlalu banyak mengkonsumsi suplemen penambah energi.

Dia mengatakan, kebiasaan mengkonsumsi makanan sehat harus dimulai sejak dini. Lestariningsih miris pada anak-anak kecil saat ini yang enggan mengkonsumsi buah dan sayur. Dia menyarankan agar orang tua lebih kreatif mengolah buah dan sayur agar lebih bisa diterima oleh anak.

“Anak-anak zaman sekarang juga suka mengkonsumsi junk food. Orang tua jangan terlalu sering mengajak anak makan makanan yang seperti ini. Sebulan sekali saya rasa masih wajar, jangan sepekan sekali,” tambahnya.

Musim hujan dikatakan juga bisa menyebabkan penyakit ginjal karena saat musim hujan terdapat genangan kotor yang bisa menjadi sarang kuman. Terlebih lagi, lingkungan kotor tersebut menjadi tempat hidup tikus yang membawa penyakit leptospirosis. Jika manusia tanpa alas kaki menginjak bekas kotoran tikus tersebut, banyak penyakit yang berpotensi masuk ke tubuh.

Dia menambahkan, gejala orang yang terkena penyakit dari kuman yang dibawa tikus adalah panas demam tinggi, mual, muntah, susah buang air kecil dan mata menjadi kuning. Jika mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera diperiksakan di klinik.

Lestariningsih juga memberikan motivasi kepada para pasien ginjal yang hampir patah semangat ketika harus menjalani cuci darah. Dia mengatakan bahwa cuci darah bukan akhir dari segalanya.

“Saat ini biaya cuci darah di-cover BJPS, jadi beban masyarakat bisa lebih ringan. Namun kita semua tetap harus menjaga kesehatan agar tidak perlu melakukan cuci darah,” ungkapnya.

Bagi pasien yang sudah melakukan cuci darah juga diharapkan untuk bisa menjalani hidup sehat dan pola makan yang direkomendasikan oleh dokter. Jika masih suka melanggar pantangan, cuci darah yang dilakukan akan percuma. (ade)

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.