Fintech Bakal Geser Layanan Perbankan?

fintech OJK
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah, Bambang Kiswono menyampaikan laporan perkembangan sektor perbankan pada acara Ngopi Bareng Wartawan di Rosti Cafe Semarang, Senin (26/3). (Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita)

SEMARANG –  Financial Technology (Fintech) diprediksi akan mengambil ruang pelayanan perbankan. Industri ini tumbuh cepat dalam waktu kurang dari satu tahun. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah, Bambang Kiswono mengatakan, beberapa waktu lalu masyarakat mulai ditawarkan dengan jenis alternatif pembiayaan baru melalui Peer-to-Peer Lending Financial Technology (Fintech).

Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan fintech, pada tanggal 28 Desember 2016 OJK telah mengeluarkan POJK No 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Langsung Berbasis Teknologi Informasi (LMPUBTI) atau Peer-to-Peer Lending.

“OJK memiliki ketentuan Peer to Peer Lending ini bisa memberikan pinjaman tapi tidak boleh menghimpun dana dari masyarakat,” ungkapnya di sela kegiatan Ngopi Bareng Wartawan di Rosti Cafe Semarang, Senin (26/3).

Fintech model ini perkembangannya sangat cepat. Sebab, bisa mengambil ruang layanan perbankan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat yang tidak bisa mengakses pembiayaan di bank.

“Mereka memberikan kemudahan dalam proses kredit yang lebih cepat dan peminjam juga tidak perlu menggunakan agunan untuk memperoleh pembiayaan,” tuturnya.

Ke depan model pembiayaan melalui Fintech ini akan terus dikaji agar bisa mempercepat inklusi keuangan di Indonesia. Adapun, salah satu yang akan dikaji adalah dikeluarkannya ketentuan perlindungan bagi konsumen yang memanfaatkan Fintech.

“Kami berharap OJK pusat akan mengkaji lagi model pembiayaan ini. Salah satu yang penting yaitu agar Fintech lebih bisa memberikan perlindungan kepada konsumen. Harapannya akhir semester satu ketentuan itu bisa keluar,” kata Bambang.

Disamping itu, lanjut dia, penyelenggara Fintech diharapkan juga memanfaatkan sistem layanan informasi keuangan agar calon debitur menjadi tahu track record-nya bagus atau tidak.

Sementara itu, secara nasional sampai dengan Februari 2018, total pinjaman yang disalurkan perusahaan mencapai Rp 3,54 triliun atau meningkat 38,23% (ytd), dengan jumlah penyedia dana 128.119 meningkat 26,93% (ytd) dan jumlah peminjam 546.694 tumbuh 110,566 (ytd).

Sedangkan, di Jawa Tengah sampai dengan Februari 2018 tercatat jumlah pemberi pinjaman (lender) di Jawa Tengah sebanyak 8.000 orang dengan transaksi sebesar Rp 66,6miliar dan jumlah peminjam sebanyak 22.000 orang dengan transaksi kurang lebih sebesar Rp 218,8miliar. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

73 + = 83

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.